KOTA PASURUAN PojokKiri.com – Kebijakan pengalihan arus lalu lintas akibat proyek perbaikan Jembatan Bukwedi (BOK Wedi) yang menghubungkan Kecamatan Kraton dan Kecamatan Kebonagung memicu protes keras dari masyarakat. Jalur alternatif yang dialihkan melintasi Jalan Gatot Subroto kini berubah menjadi "jalur maut" lantaran dipadati oleh kendaraan bertonase berat. Kondisi ini memicu rentetan kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan jatuhnya korban luka ringan, luka berat, hingga meninggal dunia.
Aspirasi dan keluhan tajam ini salah satunya disuarakan oleh warga Kelurahan Krapyak, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan. Warga menilai infrastruktur jalan di kawasan permukiman tersebut sama sekali tidak layak dan tidak didesain untuk dilewati kendaraan besar.
Kritik keras sebelumnya telah dilantangkan oleh anggota DPRD Kota Pasuruan dari Partai Golkar, H. Hasan. Namun, hingga kini belum ada titik temu yang konkret, baik dari Pemerintah Kota Pasuruan maupun dinas terkait di tingkat provinsi.
Senada dengan hal itu, anggota DPRD Kota Pasuruan dari Fraksi PPP, H. Aris Ubaidillah, turut angkat bicara. Sebagai warga yang tinggal tepat di depan Jalan Gatot Subroto, H Aris merasakan langsung dampak buruk dari semrawutnya lalu lintas harian selama lebih dari dua bulan terakhir.
"Pengalihan kendaraan besar ke Jalan Gatot Subroto ini sangat mengganggu dan membahayakan keselamatan. Saya tahu sendiri dampaknya, anak saya kalau mau menyeberang jalan untuk mengaji saja harus menunggu hingga 15 sampai 20 menit karena arus kendaraan sangat padat dan melaju kencang," keluhnya melalui voice note, Sabtu (6/6/2026).
H Aris menegaskan bahwa sejak awal pengalihan arus diberlakukan, dirinya telah berulang kali berkomunikasi langsung dengan Wali Kota serta Ketua DPRD Kota Pasuruan untuk segera mencari solusi taktis. Namun, penanganan yang diterima tak kunjung terealisasi di lapangan.
Akibat belum adanya formula konkret dari pemerintah, gelombang kekesalan masyarakat kini mulai mengarah kepada para wakil rakyat setempat. H Aris dan H Hasan mengaku pasrah menerima cemoohan warga, namun ia berkomitmen akan terus berdiri bersama masyarakat untuk menuntut keadilan.
Berikut adalah sejumlah langkah dan poin krusial yang ditegaskan oleh H. Aris Ubaidillah terkait tindak lanjut masalah ini:
Rencana Audiensi Resmi: Perwakilan warga dari tingkat RT, RW, dan tokoh masyarakat Kelurahan Krapyakrejo telah berkoordinasi agar mengirimkan surat permohonan audiensi resmi ke gedung dewan guna meminta kejelasan formula pengalihan arus dari Pemkot Pasuruan.
Desakan Pengalihan Jalur Tol: Meskipun pemerintah daerah akan mengarahkan kendaraan berat untuk masuk ke jalur tol, namun realita dilapangan truk-truk besar tetap bebas melintasi jalan Gatot Subroto.
Dukungan Penuh Aksi Warga: Jika pemerintah tetap menutup mata hingga korban jiwa kembali berjatuhan, pihak dewan mempersilahkan warga yang bakal melakukan aksi blokir jalan sebagai bentuk protes puncak.
"Intinya kami para dewan yang terdampak tidak tinggal diam meski sering menerima hinaan dan caci maki dari warga. Kami terima itu sebagai lecutan, dan kami akan terus berjuang. Jika sampai ada kejadian fatal atau korban meninggal lagi dan warga memilih memblokir jalan, saya pribadi yang akan ikut turun langsung mendukung aksi tersebut," pungkas H Aris.
Saat dikonfirmasi melalui pesan singkat WhatsApp, Wali Kota Pasuruan mengarahkan media untuk meminta penjelasan ke berbagai pihak lintas instansi lantaran proyek tersebut merupakan program pusat.
"Dishub saja, sampeyan konfirmasi juga ke balai jalan, kepolisian, dan kontraktornya. Itu proyek nasional. Jadi ini bukan hanya Pemkot saja, tapi mengkoordinasikan dengan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional, Jasa Marga, Polres, dan juga kontraktor yang mengerjakan proyek tersebut," balas Wali Kota Pasuruan.
Mengenai keluhan anggota dewan dari fraksi Ka'bah tersebut, Wali Kota mengeklaim bahwa penanganan jalur alternatif sebenarnya sudah mulai berjalan. "Ini para pihak sudah menindaklanjuti dengan mengarahkan jalur lewat Jalan Pahlawan (Pangsut), belok ke Wironini...," tambahnya.
Kendati demikian, berdasarkan pantauan di lapangan, pengalihan ke jalur alternatif tersebut hanya bertahan satu hari di pagi hari pascainsiden kecelakaan maut yang menewaskan pasangan suami istri warga Krapyakrejo pada bulan lalu. Setelah itu, arus kendaraan bertonase berat kembali melewati "jalur maut" Jalan Gatot Subroto hingga saat ini.
Di sisi lain, Ketua DPRD Kota Pasuruan mengakui pihaknya telah meneruskan aspirasi tersebut ke instansi terkait guna meminimalisasi risiko kecelakaan di Jalan Gatot Subroto.
"Saya juga telah menyampaikan ke dinas terkait adanya insiden yang terjadi beberapa kali di Jalan Gatot Subroto. Selayaknya dipakai satu jalur saja, saya kira itu sudah mengurangi kepadatan. Namun, sampai sekarang belum ada realisasi pengalihan arus tersebut," tandas Ketua dewan.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Dinas Perhubungan serta Satlantas Pasuruan Kota belum memberikan keterangan resmi terkait evaluasi sistem zonasi dan formula pengalihan arus kendaraan berat di jalur tersebut. (Chu/Yus)
