PASURUAN, PojokKiri.com — Potret buram kemiskinan ekstrem di tengah Kota Pasuruan mendadak viral dan memicu gelombang kecaman. Tri Gandung Warsito (61), seorang buruh tukang kayu yang sering sakit-sakitan, terpaksa harus tinggal di sebuah gubuk yang kondisinya sangat memprihatinkan di Kelurahan Randusari, RT 03 RW 01, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan.
Merespons kondisi miris tersebut, Wakil Gubernur Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Jawa Timur, Ayi Suhaya, S.H., bersama Abdul Aziz dan Zainul Jidoor langsung turun ke lokasi untuk melihat fakta di lapangan, Sabtu (16/05/2026).
Dari hasil pantauan visual, rumah yang ditempati Warsito sejak tahun 1989 itu sudah jauh dari kata layak. Tembok batanya rapuh dan penuh retak-retak dengan plesteran yang mengelupas. Di bagian dalam, hanya ruang tamu dijadikan kamar yang beralaskan semen, sementara area belakang masih berupa tanah di kamar anaknya.
Kondisi paling parah terlihat pada bagian atap kamar yang sudah ambruk sejak setahun lalu akibat lapuk dimakan usia. Untuk bertahan hidup dari terik matahari dan air hujan, Warsito terpaksa menambal atap dan dinding kamarnya menggunakan lembaran triplek bekas serta sisa banner iklan.
Tragisnya lagi, rumah di kawasan perkotaan ini tidak memiliki fasilitas Mandi, Cuci, Kakus (MCK) yang memadai. Kamar mandi yang berlumut tidak dilengkapi dengan jamban (WC), memaksa keluarga ini harus Buang Air Besar (BAB) di sungai terdekat.
Melihat kondisi yang dinilai "bak kandang ayam" tersebut, hati Ayi Suhaya spontan geram. Ia melayangkan kritik keras dan menuding Pemerintah Kota Pasuruan, baik pihak eksekutif maupun legislatif, sengaja menutup mata atas penderitaan warganya.
"Ini adalah bukti nyata kemiskinan ekstrem di Kota Pasuruan. Wali Kota dan DPRD yang ada di sini harus buka mata dan hati! Jangan pura-pura tuli dan buta. Malu kita! Rumah sekian lama bobrok dan hampir roboh tapi dibiarkan. Kalau sampai ambruk dan memakan korban jiwa, siapa yang mau bertanggung jawab?!" cecar Ayi Suhaya dengan nada tinggi.
Ayi juga menyoroti adanya sisa anggaran daerah (Silpa) Kota Pasuruan yang mencapai angka Rp95,37 miliar. Menurutnya, anggaran sebesar itu seharusnya bisa digeser melalui Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Perkim) untuk program bedah rumah secara total, bukan sekadar bantuan ala kadarnya.
“Kita ini sudah 80 tahun merdeka, tapi rakyat seolah masih dijajah oleh ego pejabatnya sendiri. Ada Silpa Rp95,37 miliar, ke mana anggaran itu? Kenapa tidak displitkan atau digeser untuk urusan mendesak seperti ini? Jangan uang negara hanya habis untuk event-event seremonial yang tidak menghasilkan dampak pro-rakyat,” tambahnya.
Lebih jauh, wagub LIRA Jatim menilai fungsi pengawasan DPRD Kota Pasuruan mandul, mengingat rumah dinas Ketua DPRD sebenarnya berada tidak jauh dari lokasi kelurahan setempat. Jika jajaran Pemkot Pasuruan sudah mati rasa, Ayi mendesak otoritas yang lebih tinggi untuk mengambil alih penanganan.
“Jika Wali Kota tidak mampu menjalankan roda ekonomi dan melahirkan kebijakan pro-rakyat, silakan mengundurkan diri! Termasuk Ketua DPRD, jika tidak mampu menjembatani penderitaan masyarakat, mundur saja daripada malu,” tegas Ayi.
Pihaknya menyatakan akan melayangkan laporan resmi dan meminta Penjabat (Plh), Gubernur Jawa Timur hingga Presiden Prabowo Subianto untuk turun langsung ke Kelurahan Randusari guna mengevaluasi kinerja penanganan kemiskinan ekstrem di Kota Pasuruan yang dinilai acuh tak acuh. (Chu/Yus)
