Header Ads Widget

Hosting Unlimited Indonesia

Ticker

6/recent/ticker-posts

Keris : Teknologi Tersembunyi Yang Disesatkan.



Pasuruan, Pojok Kiri 
Keris dari sudut kacamata sains, kita bicara hukum fisika, lebih rasional dan brilian. Empu pembuat senjata di masa lampau itu pada dasarnya adalah ilmuan, bukan dukun klenik amatir yang modal komat-kamit mantra. Seorang insinyur metalorgi tingkat tinggi. Mereka sudah beresperiman ratusan tahun sebelum bangsa eropa moderenerumuskan teori tentang material kimia atau komposit diatas kertas. 

Sering kita meremehkan sebuah artefak, keris, sebuah benda usang yang hanya ada di musium, atau di lemari kakek kita, Yang selalu di cap sebagai jimat penyedot energi gaib. Padahal keris ternyata adalah mahakarya rekayasa material yang sangat luar biasa. 

Kalau kita kilas sejarah, dilihat dari bahan bakunya, sebuah material kosmik yang jatuh dari langit dekat candi Prambanan pada akhir abad 18. 

Bongkahan material Prambanan batu ini kemudian dibawah ke keraton Surakarta. Di titik inilah sain s bisa menjelaskan fenomena yang dulu dianggap murni keajaiban. Jadi tidak cuma besi biasa.!??

Besi meteorit yang secara alami memiliki kandungan unsur nikel yang sangat tinggi, selain itu memiliki campuran titanium dan material kosmik langka lainnya. 

Selanjutnya para empuasa itu memutuskan untuk melebur batu kosmik ini dengan biji besi biasa dari bumi Nusantara. Empuasa melakukan pencampuran ekstrim di perapian, yang akhirnya menimbulkan kekacauan molekuler. Empuasa melakukan Proses peleburan metalorgi tingkat tinggi. 

Dimana unsur nikel dari meteorit itu punya sifat bawaan, yang istimewa. Dia sangat tahan karat dan punya keuletan atau sifat alot, yang tinggi. 

Disaat nikel ini meleleh dan menyatu dengan struktur kristal baja bumi, kekacauan molekuler yang terjadi justru menciptakan paduan logam yang karakteristiknya jauh melebihi baja biasa. Dalam artian logamnya lebih kuat, tapi tetap tangguh. Yang menarik dari observasi empiris para empu ini, mereka jelas tidak punya poster, tabel periodik , mereka tidak menghafal nomor atom, titanium, tau nikel. Tapi lewat uji coba dari generasi ke generasi dan ketajaman observasi. Mereka tau persis batu dari langit ini punya kekuatan yang tidak bisa ditemukan di logam perut bumi. 

Empu mengenali kualitas itu dari warna merah pijaran api. Cara logamnya beraksi Saad di tempa palu dan daya tahannya setelah dingin. Sebuah sains terapan yang lain intuitif, langsung di praktekkan di depan tungku tradisional. 

Bahan bakunya memang epik, dari luar angkasa. Untuk membuat keris dengan bahan meteorite perlu pendekatan yang jauh lebih rumit di bandingkan dengan bahan baja besi biasa. Melalui proses pemanasan dengan suhu ribuan derajat, potongan besi, baja, dan bahan pamor yang kaya nikel dari meteorit dilakukan secara bersamaan. 

Logam-logam ini Saat mencapai suhu pijar, molekulnya mulai merenggang maksimal. Tepat dititik kritis itulah logam di tumpuk, di pukul dengan palu, dipanjangkan lalu di lipat kembali diatasnya sendiri. Dilipat seperti kayak koki melipat adonan pastri berlapis lapis. 

Secara visual sangat mirip, tapi bayangkan anda melipat logam padat yang suhunya ribuan derajat. Mereka melipatnya jadi dua lapisan., dipukul sampai menyatu, dinlioat jadi 4,8, 16, 32, dilipat sampai ratusan bahkan ribuan kali. 

Dari proses tempo lipat ekstrim ini menciptakan ilmu di material moderen dinamakan sebagai struktur mikrokomposit. Inti tajam yang di bungkus oleh ribuan lapisan mikroskopis besi dan nikel yang elastis. 

Ternyata ilmu teknologi yang dilakukan empu nenek moyang kita ternyata merupakan prinsip yang sama persis yang belakangan baru dipakai di industri penerbangan modern. 

Ternyata pesawat terbang memakai material komposit berlapis lapis untuk sayap dan bodinya supaya kuat menahan tekanan, tapi harus bisa fleksibel waktu kena turbulensi. Sementara leluhur kita sudah mengeksekusi tehnik ini diperapian desa berabad-abad yang lalu. 

Hasil dari ribuan lipatan mikroskopis itu adalah sebulah keris yang ujungnya bisa diasah sangat tajam, tapi struktur keseluruhannya punya elastisitas luar biasa buat meredam Shok mekanis. Tenaganya bisa mantul. 

Keris bisa nahan benturan hebad. Melengkung sesaat waktu beradu dengan zira baja di Medan perang, terus kembali di bentuk semula tanpa patah. 

Sungguh rekayasa termodinamika tingkat tinggi yang dikerjakan cuma menggandalkan indra peraba dan penglihatan. Tapi ribuan lapisan logam yang ditumpuk itu ternyata enggak cuma soal kekuatan, ada hubungan dengan estetika visual. Antara seni dan kimia yang menciptakan pamor dengan corak yang indah. 

Ada garis putih keperakan yang kontras dengan dasar bilah yang hitam gelap. Pola visual ini timbul dari tumpukan besi dan nikel yang di tempa dan dilipat ribuan kali. Tapi untuk untuk memunculkan warnanya biar kelihatan jelas, ada proses yang namanya mewarangi. 

Di proses ini kita jangan sampai salah tafsir!!!

Proses mewarangi atau ritual memandikan keris ini sering kali jadi biang kerok dari mitos terbesar yang menutupi sains di balik proses teknologi pembuatan keris. Mitos yang beredar di masyarakat dan masuk ke flm horor, keris di mandikan pakai racun gaib, dikasih mantra sihir lewat cairan tertentu biar bilahnya mematikan dan dikawal roh halus. Ini tentu pembohongan yang didramatiser. 

Padahal kalaub kita bedah fakta dari sumber kita, ritual memandikan keris ini murni reaksi asam basa dan oksidasi kimiawi. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan klenik. 

Kalau kita letakkan proses ini di bawah mikroskop kimia, cairan untuk mewarangi itu terdiri dari dua komponen senyawa kimia utama. Yang pertama larutan perasan jeruk nipis. Dimana jeruk nipis ini secara alami mengandung asam sitrat dengan konsentrasi tinggi. Fungsinya sangat pragmatis . Asam sitrat bertindak sebagai pelarut alami buat membersihkan permukaan logam dari sisa minyak atau karat mikroskopis.

Dan yang kedua adalah cairan arsenik. Memang arsenik ini elemen beracun, kalau dikonsumsi manusia secara biologis. Arsenik ini dialih fungsikan sebagai agen pengikisan terkendali dan pelindung kimiawi. 

Waktu arsenik dioleskan diatas keris yang sudah dibersihkan pakek jeruk nipis, disini akan terjadi reaksi oksidasi yang spesifik. Arsenik beraksi langsung dengan unsur besi yang memaksa warna besi berubah drastis jadi hitam pekat.

Lapisan hitam ini sebenarnya mengunci permukaan besi luar. Jadi bilah kerisnya berubah jadi anti karat dan tahan cuaca tropis. Tapi anehnya cairan arsenik ini tidak tidak merubah warna nikelnya sama sekali. Disitulah letak sihir sainsnya . Arsenik sangat reaktif dengan besi, tapi secara kimiawi dia bersifat lembam dengan atau tidak beraksi dengan nikel. 

Akibatnya ribuan lapisan nikel dari pecahan meteorit tadi tetap mempertahankan warna aslinya. Putih keperakan yang bersinar, kontran visual, yang tajam antara besi hitam legam dan nikel putih terang. Inilah yang bikin pola pamor tiba-tiba mencuat dan kelihatan tajam oleh mata kita. 

Ini membuktikan leluhur kita sudah mengenal teknologi, sudah mampu mempraktekkan perlindungan korosi logam cuma dengan memahami interaksi kimiawi dari bahan-bahan alam disekitar mereka tanpa peralatan canggih. 

Kembali, kalau kita berbicara bentuk keris, sebagian besar orang terlihat aneh dan tidak lazim. Tidak seperti pedangnya orang Eropa atau jepang. Dari bawah, pangkal pegangannya asimetris. Bentuknya agak condong menunduk miring kesatu sisi. Bukan berarti cacat produksi, tapi kemiringan asimetris pada pangkal keris itu hasil perhitungan ergonomi fisik yang matang. 

Kita harus ingat fungsi utama keris dalam sejarah peperangan , dia didesain spesifik sebagai senjata pertarungan jarak sangat dekat. 

Lalu apa hubungannya dengan pangkal yang miring!!???

Waktu tangan anda menggenggam Gagan keris, sudut kemiringan pangkalnya dirancang presisi supaya ujung bilah keris sejajar sempurna membentuk garis lurus dengan tulang lengan bawah pemakainya. 

Jadi kerisnya memposisikan diri seolah-olah dia itu sambungan tulang biologis dari tangan kita sendiri. Kesejajaran biomekanis ini memberikan stabilitas dorongan yang maksimal. Disaat lengan prajurit menusuk kedepan atau menangkis pukulan diruang sempit, tranfer energi kinetik dari otot bahu menggalau kesiku, pergelangan tangan sampai langsung keujung bilah itu terjadi utuh terfokus. Tidak ada tenaga yang terbuang sia-sia karena pergelangan tangan yang mendukung canggung. Ini membuktikan adanya prinsip desain anatomi terapan tingkat master. 

Kalau bilah keris yang keriting, berlekuk-lekok, atau lok, kenapa tidak dibuat lurus seperti pedang. Ada rahasia tersendiri, keris lok memang didesain begitu. Karena kalau bilah yang bentuknya lurus (pedang) saat ditusukkan masuk kedalam tubuh target, sulit untuk dicabut kembali. Karena begitu logam lurus masuk nembus kulit, lapisan otot dan jaringan daging, disekitarnya akan beraksi otomatis dengan mengerut dan menjepit bilah tersebut dengan sangat rapat. Penjepit daging ini secara efektif menolak udara luar untuk masuk yang akhirnya menciptakan semacam ruangan hampa udara atau evek vakum didalam saluran luka. 

Berarti secara harfiah pedang lurus itu tersedot dan nyangkut didalam badan targetnya. Dibtengah perang yang kacau dan serba cepat, senjata nyangkut walau cuman sedetik itu bisa jadi bencana, yang mengancam nyawa. 

Itu kesalahan yang sangat fatal. Dan di titik krusial itulah fungsi lekukan atau look keris pada keris menyelamatkan nyawa penggunanya. Karena bentuk bergelombang bukan untuk gaya-gayaan, melainkan untuk memecah efek tekanan ruang hampa tersebut. 

Saat bilah keris yang berlekuk dipaksa masuk menembus target, lekukan di sepanjang tubuhnya otomatis memaksa jaringan tubuh merenggang dan menciptakan rongga-rongga udara ekstra di sekitar pinggiran luka. Jadi udaranya bisa masuk. 

Desain ini memaksa udara bebas masuk mengikuti bilah, efek vakum atau hisapan otot tadi seketika hancur dan gagal terbentuk. Hasilnya keris mendadak jadi sangat ringan dan gampang ditarik kembali dalam hitungan detik untuk serangan berikutnya. Sekaligus robekannya menjadi lebih lebar. 

Kita bisa membayangkan, begitu presisinya perhitungan empu kita. 

Selain itu terkadang kita juga di bohongi tentang mitos bahwa keris buatan empu identik dengan keris itu ada khodamnya, dalam artian empu masukkan roh halus, jin di dalam keris biar sakti. Narasi ini justru populer. Interpretasi mistis jalanan semacam ini ironisnya justru merendahkan dedikasi profesionalisme kerja para empu. 

Coba pakai nalar sehat dan lihat kondisi lingkungan kerja seorang pembuat keris . Empu dalam bekerja dalam posisi berdiri persis depan mulut tungku peleburan logam yang suhunya diatas 1000 derajat Celcius. Suhu yang sangat ekstrim, lempengan logam keras mencair jadi bubur api. Disini satu kesalahan kecil seperti ngantuk bisa jadi bencana yang tak terbayangkan. 

Kalau satu ayunan palu gada mereka meleset satu milimeter saja waktu menghantam baja cair, percikan logam 1000 derajat itu bakal melesat kena tubuh atau mata. Bisa cacat permanen atau bahkan fatal. 

Belum lagi urusan teknisnya, kalau mereka salah hitung durasi atau salah baca gradasi suhu pijar waktu melipat baja pamor, tumpukan logam rapu itu bisa retak, pecah dan hancur lebur pas di palu. Kerja keras berhari-hari bisa hancur cuma karna telat satu detik. Lingkungan se-extrim ini menuntut satu hal diatas segalanya. Konsentrasi dan kesadaran mutlak 100% tanpa distraksi. Seperti puasa nahan lapar, ngak tidur, dan menyendiri menjauhi manusia lain yang biasa disebut uzla. 

Justru yang sebenarnya adalah empu saat itu berpuasa murni untuk menjernihkan pikiran, buang stres, masalah sehari-hari, dan mengendalikan emosi. Murni supaya mereka cepat fokus kinerja kongnitif tertinggi. 

Kalau mereka berdoa di tengah malam, mereka berdoa minta kekuatan fisik, keselamatan kerja di depan api membara, dan memohon keberkahan dari sang pencipta. Mereka sadar sepenuhnya, mereka ini berhadapan dengan elemen alam yang luar dan berbahaya. Sebuah kepasrahan yang rasional. 

Mereka memilih berserah diri pada hukum-hukum alam tersebut, tunduk pada kerasnya termidinamika besi dan energi api yang semuanya dipahami sebagai ayat-ayat kauniah atau hukum dasar fisika ciptaan tuhan. 

Jadi keris bukan bilah besi kuno yang di gosok kembang tujuh rupa, tapi jauh melampaui itu keris adalah artefak valid dari titik puncak kemajuan ilmu peradaban Nusantara, 

Para empu bukan dukun klenik amatir yang modal komat-kamit mantra. Mereka itu rnsinyur metalorgi genius, ahli kimia terapan, pakar anatomi bio mekanik dan seniman taad yang memahami hukum dasar alam. Dihimpun dari berbagai sumber.(Syafi'i/yus).