PASURUAN Pojok kiri Keluhan warga dan pengguna jalan yang melintasi Jembatan Purwosari, tepatnya di Jalan Mukibat depan Kantor Capem BNI Purwosari, Kemantren Martopuro, Kabupaten Pasuruan, kian memuncak. Plat besi penghubung jembatan yang tidak presisi dan licin dilaporkan telah memakan puluhan korban luka-luka akibat kecelakaan tunggal.
Bukan karena faktor mistis, namun kondisi teknis plat besi yang menonjol dan tidak rata dengan aspal menjadi penyebab utama ban motor tergelincir, terutama saat cuaca hujan.
Yudi, salah satu warga sekitar yang kerap menolong korban, mengungkapkan bahwa pemandangan pengendara jatuh sudah menjadi konsumsi harian. Apalagi jika hujan turun, jumlah korban bisa melonjak drastis.
"Tak hanya satu, kalau hujan bisa sampai lima motor jatuh dalam sehari. Ada yang luka berdarah-darah, motornya mengalami kerusakan. Paling miris kalau melihat yang boncengan tiga bawa anak kecil, anaknya sampai ikut luka-luka," ujar Yudi dengan nada prihatin.
Senada dengan Yudi, seorang petugas keamanan (satpam) di sekitar lokasi juga mengaku sering menepikan kendaraan dan menolong korban yang tersungkur di aspal. "Sering sekali kami menolong. Kasihan melihat mereka sampai berdarah karena bergesekan dengan aspal jalan," tambahnya.
Meskipun kecelakaan di lokasi ini sudah berkali-kali viral di media sosial dan diberitakan media massa, hingga kini belum ada tindakan nyata dari dinas terkait. Hal ini memicu kritik pedas dari salah satu pelintas asal Pasuruan Raya, yang akrab disapa Cak Cuk. Selasa (07/04/2026).
"Mosok se wong dinas/pejabat pemkab, gak onok seng krungu nek jembatan iki sering ono wong tibo? (Masak orang dinas atau pejabat Pemkab tidak ada yang dengar kalau jembatan ini sering ada orang jatuh?)" cetus Cak Cuk dengan dialek khasnya.
Ia mendesak Bupati Pasuruan maupun Gubernur Jawa Timur segera turun tangan. Mengingat jalur ini adalah urat nadi penghubung Malang-Pasuruan yang dilalui kendaraan berat, warga khawatir jika tidak segera diperbaiki, kecelakaan tunggal ini bisa berakibat fatal atau menelan korban jiwa.
"Jangan sampai menunggu ada yang mati baru ditangani. Ingat kejadian di perlintasan rel Bangil kemarin yang sampai memakan korban jiwa. Masyarakat sudah bayar pajak kendaraan, mereka berhak mendapatkan jalan yang aman dan nyaman," tegasnya.
Keberadaan plat besi yang "miring" dan tidak presisi ini menjadi ujian bagi Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), baik tingkat kabupaten maupun provinsi, untuk segera merespon. Ribuan nyawa melintasi jalur ini setiap harinya, dan setiap detik penundaan perbaikan adalah ancaman bagi keselamatan publik.
Warga berharap pemerintah tidak seolah "tutup mata" dan segera mencari solusi teknis agar plat besi di Jembatan Purwosari tidak lagi menjadi perangkap maut bagi pengendara roda dua. (Khu/Yus)
