Header Ads Widget

Hosting Unlimited Indonesia

Ticker

6/recent/ticker-posts

Hadiri Haul Ke-74 Mbah Kyai Mustaqim sebagai Penyebar Agama Sekaligus Pejuang Kemerdekaan 10 Nopember 1945.

.

Pasuruan, Pojok Kiri 
Mbah Yai Mustaqim adalah salah satu figur ulama penting dalam sejarah bangsa, selain dikenal sebagai tokoh agama Islam yang mumpuni juga merupakan seorang pejuang kemerdekaan yang gigih.

Atas berbagai kiprahnya, dari Jawa Tengah Mbah Yai Mustaqim melakukan perjalanan ke Surabaya, Sidoarjo, hingga Pasuruan dalam upaya syiar agama Islam sekaligus dalam perjuangannya membebaskan bangsa dari belenggu penjajahan. 


Baca Juga;
Sejarah Perjuangannya di Lupakan; Para Jurnalis Gempol Ingatkan dengan Gelar Tabur Bunga di Hari Pahlawan | https://www.pojokkiripasuruannews.com/2024/11/sejarah-perjuangannya-di-lupakan-para.html

Kepala desa Kepulungan Didik Hartono menyebut Mbah Yai Mustaqim ini sebagai Waliyullah, "Mbah Yai Mustaqim itu menurut cerita Mbah saya, saat saya masih SMP sekitar tahun 1990, umume Mbah Yai Mustaqim itu wali, artinya beliau itu seorang faqih, seseorang yang mengerti hukum Islam, bukan hanya masalah- masalah ibadah, tetapi juga peduli persoalan bangsa dan negara, "ungkap Kades Didik saat menghadiri acara Haul Mbah Kyai Mustaqim ke-74 dan Lailatul Ijtima' NU Ranting Kepulungan, di Masjid Imam Syafii, dusun Arcopodo desa Kepulungan, Jum'at (34)4/2026). 

Hal ini, lanjut Didik, salah satunya dibuktikan Pada masa revolusi kemerdekaan, saat “Fatwa Resolusi Jihad” untuk melawan penjajah turun dari pucuk pimpinan NU, Mbah Yai Mustaqim sebagai Ulamak sekaligus pejuang merasa terpanggil dalam pertempuran heroik 10 November 1945 di Surabaya untuk mengusir Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia dengan cara membonceng tentara Sekutu.
“Dalam catatan keluarga dan sesama pejuang kemerdekaan serangan 10 Nopember, Mbah Yai Mustaqim dikenal sebagai komandan Hisbullah yang berani, "tegas Didik. 

Baca Juga; 
Jejak Eks Laskar Pangeran Diponegoro Terpatri di Makam Mbah Yaii Mustakim Bin Hasbulla Arcopodo Pulungan | https://www.pojokkiripasuruannews.com/2024/10/jejak-eks-laskar-pangeran-diponegoro.html


Bagaimanapun, menurut Didik, orang-orang pinter di desa Kepulungan tidak lepas dari sentuhan dan didikan Mbah Yai Mustaqim, sehingga wajar kalau warga desa Kepulungan itu memiliki Mbah Yai Mustaqim. Akhirnya oleh warga desa dibangun pendopo makam Mbah Yai Mustaqim dengan cara swadaya. 

"Mangkanya ngak bisa dikatakan bangunannnya milik durriyah, karena kita merasa Mbah Yai Mustaqim milik warga Kepulungan, milik bersama. Bagaimanapun dulu sak pinter-pinter nya wong Kepulungan tidak lepas dari sentuhan dan didikan Mbah Yai Mustaqim, "tandasnya. 

Hal inilah, kata Didik, Mbah Yai Mustaqim sebagai ulama dan pejuang kemerdekaan harus kita contoh dan panutan kita. 

“Kealiman dan rasa nasionalisme Mbah Yai Mustaqim ini patut di contoh, "ujarnya.  

Terakhir, pada sambutannya Didik Hartono menjelaskan tentang Lailatul Ijtima', bahwa Lailatul Ijtima' itu, merupakan tradisi pertemuan malam rutin warga Nahdlatul Ulama (NU) yang bermula sejak 1930-an untuk mempererat silaturahmi, membahas masalah keagamaan/sosial, dan tahlilan. Tradisi ini berpusat pada konsolidasi ulama dan warga, rutin bulanan di masjid/musala. 

"NU lahir di tahun 1926 sedang Lailatul Ijtima' mulai ada ditahun 1930 yang di punggawai oleh Kayi Haji Hasyim Asy'ari. Lailatul Ijtima' itu sendiri membahas tentang basaulmasail, dan kebetulan harinya saat itu malam Sabtu, yaa hari Jum'at seperti yang sekarang kita lakukan. "Jelasnya.


Baca berita sebelumnya; 
Waliyullah Arcopodo Pulungan, Mbah Yaii Mustakim , Santri Pengembara di Tiga Jaman. | https://www.pojokkiripasuruannews.com/2024/10/waliyullah-arcopodo-pulungan-mbah-yaii.html


Sebelumnya, perwakilan Dzuriyah (keturunan) Mbah Yai Mustaqim, Ustadz Badderun, dalam sambutannya mengajak para penerus Mbah Wahab untuk benar-benar meneladani ajarannya, khususnya dalam mencintai tanah air, seperti yang tercermin dalam syair yang sering di nyanyikan warga NU dalam lagu “Ya Lal Wathan”.

Untuk itu selayaknya sebagai bentuk syukur dan terima kasih kepada Allah melalui peringatan haul, sebagai tanda terima kasih kita kepada Mbah Yai Mustaqim sebagai pejuang kemerdekaan. 

"Malam ini kita telah menjalankan sesuatu yang terbaik dalam rangka mengharapkan ridho dari kedua orangtua, dari bapak ibu, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia, termasuk almarhumahah Mbah Yai Mustaqim . Hari ini kita hidup di negara merdeka, dulu penuh perjuangan. Untuk itu mari kita lanjutkan perjuangan beliau, "Ungkap Ustadz Badderun.

Bahkan hingga saat ini, menurut Badderun, hubbul wathan dalam hal ini menjaga tanah air telah menjadi bagian dari prinsip besar dalam menjalankan syariah (maqashid syariah). Karena dengan menjaga tanah air, maka secara otomatis maqashid syariah yang lain seperti menjaga agama, kehidupan, harta, keturunan, keamanan, dan lingkungan akan dapat diwujudkan.

Pada acara yang diiringi penampilan hadroh ini, juga dilakukan pembagian santunan terhadap puluhan anak yatim.

Hadir pada acara ini, Rais Syuriah PC NU Bangil, KH Ahmad Junaidi, Ketua Tanfidziah MWCNU Gempol, H. M. Chozin, Syuriah dan Tanfidziah serta jajaran Banom Ranting NU desa Kepulungan, Dzuriyah Mbah Yai Mustaqim, dan Tokoh agama dan tokoh masyarakat. Sementara kepala desa Kepulungan Didik Hartono beserta jajaran Kasun, serta RT - RW. (Syafi'i/yus).