Header Ads Widget

Hosting Unlimited Indonesia

Ticker

6/recent/ticker-posts

Mati Roso" Puluhan Atlit Kota Pasuruan Buang Simbolis Bonus, Massa GM-FKPPI Desak Wali Kota Mundur !



 PASURUAN Pojok kiri Gelombang amarah menyapu halaman Kantor Pemerintah Kota Pasuruan. Puluhan atlet berprestasi bersama aktivis LIRA Jatim, GM-FKPPI, tokoh agama, hingga tokoh masyarakat menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran, Senin (2/3/2026). Mereka meluapkan kekecewaan mendalam atas pemangkasan drastis bonus Porprov Jatim 2025 yang dinilai sebagai penghinaan terhadap martabat pejuang olahraga. Senin (02/03/26) Pagi
Aksi ini diwarnai dengan teatrikal keprihatinan, penggalangan donasi di jalanan untuk atlet, hingga pengiriman karangan bunga bela sungkawa sebagai simbol "matinya rasa" pemimpin daerah.

Massa menyoroti kebijakan "efisiensi" anggaran yang dianggap mencekik hak para atlet. Berikut adalah data perbandingan penurunan nominal bonus yang memicu kemarahan:

Medali Bonus Sebelumnya (Normal) Bonus Porprov 2025 (Saat Ini) Penurunan
Emas Rp30.000.000, Rp10.000.000 - Rp20 Juta
Perak Rp20.000.000, Rp7.500.000 - Rp12,5 Juta
Perunggu Rp10.000.000, Rp5.000.000 - Rp5 Juta
Aksi "Buang Bonus" dan Kekecewaan Atlet
Puncak kekecewaan pecah saat beberapa atlet secara terang-terangan membuang papan simbolis nominal bonus. Bahkan, aksi penolakan sempat terjadi saat penyerahan langsung oleh Walikota di GOR beberapa waktu lalu.

Wahyu, perwakilan atlet Kota Pasuruan, menyampaikan curahan hatinya dengan suara bergetar. "Pengorbanan kami berdarah-darah di lapangan, berlatih pagi, siang, malam demi nama kota. Tapi bonus yang kami terima sangat tidak sebanding. Kami hanya minta dihargai secara layak," ucapnya penuh kesedihan.

Ketua GM-FKPPI sekaligus Wagub LIRA Jatim, Ayi Suhaya, S.H., dalam orasinya melayangkan kritik tajam. Ia mengirimkan karangan bunga bela sungkawa untuk Walikota, Kadispora, dan Ketua KONI. "Jika tidak mampu menyejahterakan atlet, kami minta Walikota segera mengundurkan diri! Janji kampanye Anda palsu," tegas Ayi.

Tak hanya soal bonus, Ayi juga menyentil isu ketidakharmonisan di internal birokrasi. Ia menduga adanya perpecahan antara N1 (Walikota), N2 (Wakil Walikota), dan N3 (Sekda) yang menyebabkan kebijakan tidak sinkron dan merugikan rakyat, termasuk para atlet berprestasi.

Aspirasi massa tidak ditemui langsung oleh Walikota maupun Sekda. Pernyataan sikap dan karangan bunga akhirnya hanya diterima oleh Kabid Bakesbangpol, Heri. Ketidakhadiran pimpinan daerah ini semakin memicu amarah massa yang melabeli pimpinan kota sebagai sosok "pengecut" yang enggan menghadapi kenyataan di lapangan.

Sebagai bentuk solidaritas, massa juga melakukan aksi penggalangan koin/donasi di sepanjang jalan yang hasilnya akan diserahkan kepada para atlet yang merasa terdzolimi oleh kebijakan anggaran tersebut.(Yus)