Header Ads Widget

Hosting Unlimited Indonesia

Ticker

6/recent/ticker-posts

Gadingrejo: Lebih dari Sekadar Nama, Saksi Bisu Kejayaan Pasuruan



 PASURUAN Pojok kirinews.com - Bagi banyak warga Pasuruan, Gadingrejo mungkin hanyalah sebuah nama kecamatan yang sering dilewati saat menuju arah barat kota. Namun, jika kita menyelami sejarahnya lebih dalam, wilayah ini menyimpan narasi panjang yang membentuk identitas Kota Pasuruan dari masa ke masa, sebuah perpaduan unik antara sejarah kolonial, akulturasi budaya, hingga ketangguhan ekonomi kreatif.

Terletak strategis di sisi barat dan berbatasan langsung dengan Selat Madura, Gadingrejo memegang peran vital sejak era penjajahan Belanda. Lokasi pesisir ini menjadikannya gerbang masuk penting bagi perdagangan dan interaksi antarbudaya.

Salah satu bukti paling nyata dari harmonisasi ini adalah keberadaan Klenteng Tjoe Tik Kiong di Kelurahan Trajeng. Bangunan kuno ini bukan sekadar tempat ibadah; ia adalah simbol akulturasi yang telah berdiri selama ratusan tahun, membuktikan bahwa keberagaman sudah menjadi napas masyarakat Gadingrejo jauh sebelum istilah modernitas dikenal luas.

Nama "Gadingrejo" sendiri menyimpan doa dan harapan para leluhur. Kata "Gading" secara filosofis melambangkan kekuatan dan kemewahan, sementara "Rejo" berarti ramai atau makmur. Menariknya, doa tersebut mewujud nyata dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya.

Gadingrejo kini dikenal dunia melalui industri furnitur. Kawasan Bukir dan Randusari telah puluhan tahun menjadi jantung pengrajin mebel yang produknya sudah melanglang buana hingga ke pasar internasional. Ini adalah bukti bahwa semangat kemandirian ekonomi masyarakat setempat tidak lekang oleh waktu.

Lebih dari sekadar industri, Gadingrejo adalah tentang semangat kebersamaan. Perhelatan tahunan seperti Java Island Carnival, yang melibatkan rute dari Pasar Mebel Randusari hingga Bukir, menjadi ajang pelestarian budaya sekaligus penguat ikatan komunitas.

Gadingrejo mengajarkan kita bahwa sejarah bukanlah sesuatu yang kaku di dalam buku, melainkan sesuatu yang kita jalani setiap hari lewat deru gergaji di bengkel mebel, aroma laut di pesisir, dan senyum ramah warga di gang-gang pemukiman.

Sebagai bagian dari sejarah besar Kota Pasuruan, Gadingrejo layak mendapatkan apresiasi lebih, bukan hanya sebagai pusat ekonomi, tapi sebagai penjaga warisan budaya. Sudah saatnya kita lebih bangga dan peduli pada setiap sudut kota kita sendiri.(Khu/yus)