Header Ads Widget

Hosting Unlimited Indonesia

Ticker

6/recent/ticker-posts

Malam Pitulikuran, Suara Zikir Kulhusewu Menggema di Makam Mbah Yai Mustaqim Arcopodo Kepulungan



Pasuruan, Pojok Kiri 
Bersama Mr. Ahmad Zainuddin M. Th.i, Muassis PP Kontemporer Al Hilmu Genting Sukolilo, Prigen, bersama santri dan keluarga besar Bani Mbah Yai Mustaqim menggelar tradisi Pitulikuran untuk menyambut malam Lailatul Qadar, malam yang diyakini umat muslim sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan, sekaligus nguripi (menghidupkan) amalan guru.  

Tradisi ini di selenggarakan di makam Mbah Yai Mustaqim, dusun Arcopodo desa Kepulungan kecamatan Gempol Kabupaten Pasuruan, Senin (16/3/2026) dengan tujuan syiar sekaligus ngurip-nguripi amalan Kulhu Sewu yang pernah diijazahkan oleh almarhumah Mbah Yai Mustakim pada Santri-santrinya. 
"Jadi kita semua ini cuman ngurip-nguripi saja lakune Kyai-kyai dulu. Mangkanya mari kita bareng-bareng dalam rangka ngurip-nguripi amalannya Mbah Yai Mustaqim, amalan Kulhu Sewu ( membaca Surat Al-Ikhlas/sering di sebut surat kulhu) seribu kali," tutur Ahmad Zainuddin. 

Mengenai hal ini, ijazah amalan yang sangat baik yaitu kulhusewu. Ahmad Zainuddin mengaku, dirinya mendapat amalan tersebut dari gurunya, Mbah Lim, dan Mbah Lim sendiri mendapatkan amalan dari Mbah Takim (sebutan Mbah Yai Mustaqim) cepodo Pulungan.

"Mbah Lim Kulo tangleti (saya tanya), njenengan (anda) amalan kulhu sewu Niki ndugi pundi (dari mana), di jawab beliau, "aku biyen (saya dulu) di Izazahi Mbah Yai Mustaqim Arcopodo. Jadi Mbah Takim ini gurunya Mbah Lim. Jadi yang mengizazai amalan ini, Mbah Takim. Dan Mbah Takim sendiri dari Mbah Kholil Bangkalan, "ucapnya. 
Untuk bisa sambung sanad (ikatan) Agar hati senantiasa terhubung dengan guru meskipun guru sudah wafat, agar bimbingan ruhani tetap dirasakan, sebagai murid atau santri harus bisa ngurip-nguripi amalan guru, selain sebagai syiar ajaran guru, Ilmu yang diamalkan nantinya akan lebih bermanfaat dan membawa cahaya (nur) ke dalam hati, selain itu juga sebagai benteng dan pembimbing hati agar tetap istikamah di jalan Allah.

Sebagai murid Mbah Lim, Ahmad Zainuddin, selaku pemangku pondok pesantren Kontemporer Al Hilmu Genting Prigen mengaku selama ini dirinya selalu mengamalkan amalan tersebut tiap bulan di pondok pesantrennya secara berjamaah, dan sebagai puncaknya setiap satu tahun sekali di taruk di pendopo makam Mbah Yai Mustaqim.

Bukan karna tanpa alasan acara mengamalkan kulhusewu tiap tahun di taruk di makam Mbah Yai Mustaqim yang di kemas pada bulan puasa malam pitulikuran. "Selain sebagai bentuk penghormatan kepada guru, Saya taruk disini karena secara rutin, Saya sudah mengamalkan amalan kulhuSewu itu tiap bulan, itu saya lakukan di pondok, dan gongnya setahun sekali saya taruk di sini untuk ngurip-nguripi amalan Mbah Takim, dan acara kali ini memasuki acara tahun ke-2, "Tuturnya.

Lebih lanjut, "Selain itu Kita juga punya tujuan syiar ajaran kulhu Sewu. Seperti halnya yang di lakukan oleh santri-santri Kyai-kyai besar, Contohnya Gus Miek (KH. Hamim Tohari Jazuli) punya amalan dzikir Dzikrul Ghofilin, Mbah Yai Majid (KH. Abdoel Madjid Ma'roef Kedunglo, Kediri) punya amalan Sholawat Wahidiyah, dan Mbah Yai Mustaqim punya amalan Kulhu Sewu. Sebagai bentuk penghormatan tertinggi kepada guru-guru kita, sebagai cucu santri (sambung sanad) adalah dengan melaksanakan ajaran dan pesannya, serta melestarikan amalannya, "Tutur Ahmad Zainuddin.

Perlu di ketahui, Ahmad Zainuddin menuturkan kalau gurunya, Mbah Lim ini dulunya adalah komandan Hizbullah, ikut perang 10 Nopember di Surabaya, bahkan jitok atau tengkuk belakang leher Mbah Lim ketembak, sampai beliau meninggal tahun 2012 itu masih ada peluru yang bersarang di lehernya.

"Peluru itu masih bersarang di tengkuk Mbah Lim, saat saya di minta memijit leher beliau, kok ada peluru, saya tanya, ini apa yai!?, beliau jawab, "itu peluru sisa hasil perang 10 Nopember, jitokko tertembak, tapi gak tembus. "Ucap Ahmad Zainuddin menirukan tutur Mbah Lim.

Di tempat yang sama, kepala desa Kepulungan Didik Hartono menyampaikan apresiasinya kepada para jama'ah kulhusewu, upaya menyebarkan ilmu, adab, dan keberkahan dalam kehidupan sehari-hari. 

Didik juga mengaku kalau dirinya dan masyarakat yang melakukan swadaya membangun pendopo makam Mbah Yai Mustaqim, sebagai bentuk penghormatan masyarakat kepada Mbah Yai, yang memiliki jasa besar terhadap desa Kepulungan.

"Alkhamdulillah bangunan ini tidak sia-sia, bisa di manfaatkan untuk berdzikir, dan manfaat kebaikan yang lain. Saya sangat bersyukur dan mendukung kegiatan ini, semoga tiap tahun bisa di laksanakan terus, "pungkasnya. (Syafi'i/Yus).