PASURUAN, pojok kiri Tantangan sektor pertanian di musim hujan, terutama masalah tingginya kadar asam tanah dan serangan Hama Penyakit Tanaman (HPT), menjadi perhatian serius Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kota Pasuruan.
Pengurus sekaligus pengamat pertanian HKTI Kota Pasuruan, Wiwit Yoedasmara, turun tangan memberikan edukasi teknis mengenai penggunaan bahan organik sebagai solusi menekan biaya produksi (saprodi) sekaligus mengembalikan kesuburan lahan secara alami.
Wiwit menekankan bahwa petani tidak harus selalu bergantung pada produk pabrikan berbasis kimia yang harganya kian melambung. Salah satu terobosan yang ditawarkan adalah pembuatan POC dari limbah rumah tangga.
Cara Pembuatan POC Mandiri:
Bahan: 10 liter air cucian beras (air leri), 1 botol bakteri pengurai (EM4), dan 1 botol tetes tebu (molase).
Proses: Seluruh bahan dicampur dan difermentasi dalam wadah tertutup selama 7 hari.
Aplikasi: Semprotkan ke lahan seminggu sekali dengan dosis 1,5 hingga 2 liter per tangki semprot.
"Kelebihan POC organik ini adalah tidak mengenal overdosis. Semakin banyak campuran POC di dalam tangki, semakin bagus hasilnya, terutama untuk menetralkan lahan sawah yang memiliki kandungan asam tinggi," jelas Wiwit. Kamis (26/02/26)
Selain nutrisi tanaman, Wiwit juga berbagi resep pengendalian hama menggunakan kearifan lokal, yakni ekstrak daun mimbo dan tembakau kedaluwarsa.
Ekstrak Tembakau: Tembakau kedaluwarsa direbus hingga mendidih, kemudian airnya disimpan untuk disemprotkan sebagai pencegahan maupun pengendalian HPT.
Ekstrak Daun Mimbo: Menggunakan daun mimbo yang banyak ditemui di kawasan pesisir pantai. Proses pengolahannya sama dengan ekstrak tembakau.
Menurut Wiwit, setiap 1 hektare lahan idealnya mendapatkan aplikasi minimal 20 liter POC buatan sendiri. Inovasi ini diharapkan mampu memutus ketergantungan petani pada obat-obatan kimia yang dalam jangka panjang justru merusak unsur hara tanah.
"Petani dituntut lebih kreatif melakukan inovasi teknologi pertanian agar lebih efisien dan efektif. Dengan menekan biaya saprodi yang besar, hasil panen secara otomatis akan memberikan keuntungan yang lebih signifikan bagi petani," tambahnya.
Langkah edukatif ini mendapat apresiasi positif dari kader HKTI dan berbagai kalangan di Pasuruan. Inovasi ini dinilai menjadi "angin segar" bagi para petani yang sempat lesu akibat tingginya biaya modal pertanian. Dengan beralih ke organik, petani Pasuruan diharapkan bangkit kembali dengan semangat kemandirian.(Khu/yus)
