Header Ads Widget

Hosting Unlimited Indonesia

Ticker

6/recent/ticker-posts

ANGGARAN DIPERTANYAKAN, AIR BERSIH MASIH SULIT: BEM-PMII GERUDUK PEMKOT PASURUAN, WALI KOTA-WAWALI DIMINTA MUNDUR!



Pasuruan, Pojok Kiri — Kritik keras terhadap kebijakan Pemerintah Kota Pasuruan kembali menggema. Massa mahasiswa yang tergabung dalam BEM dan PMII Kota Pasuruan menggelar aksi demonstrasi di depan Kantor Pemerintah Kota Pasuruan, Jalan Pahlawan, Rabu (23/9/2026).

Dalam orasinya, mahasiswa menyoroti sejumlah persoalan yang mereka nilai menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah belum sepenuhnya menyentuh kebutuhan masyarakat. Salah satu sorotan utama adalah pengelolaan anggaran yang dinilai tidak tepat sasaran.
Mahasiswa mempertanyakan arah penggunaan anggaran pemerintah ketika di sisi lain masih terdapat kebutuhan dasar masyarakat yang belum terpenuhi.

Salah satunya persoalan air bersih.

Persoalan tersebut bahkan tidak hanya disampaikan mahasiswa. Salah satu warga Panggungrejo turut menyampaikan keluhan mengenai kesulitan mendapatkan air bersih.

Keluhan tersebut menjadi bagian penting dalam aksi karena air bersih merupakan kebutuhan dasar masyarakat. Mahasiswa meminta Pemkot Pasuruan tidak hanya berbicara mengenai program dan pembangunan, tetapi memastikan kebutuhan dasar warga benar-benar mendapatkan perhatian.
“Untuk apa anggaran besar digelontorkan kalau kebutuhan dasar masyarakat seperti air bersih masih sulit terpenuhi?”

Pertanyaan tersebut menjadi gambaran kritik mahasiswa terhadap arah kebijakan Pemkot Pasuruan.

Tak berhenti pada kritik anggaran dan pelayanan dasar, massa juga menyampaikan tuntutan politik yang cukup keras. Mahasiswa meminta Wali Kota dan Wakil Wali Kota Pasuruan mundur apabila kebijakan pemerintah dinilai tidak pro rakyat.

Aksi berlangsung di depan kantor Pemkot Pasuruan dengan membawa berbagai atribut organisasi dan poster tuntutan. 

Massa kemudian ditemui langsung oleh Wali Kota Pasuruan Adi Wibowo bersama Wakil Wali Kota Pasuruan.

Pertemuan tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa dan warga untuk menyampaikan persoalan secara langsung kepada pimpinan daerah.

Kini persoalannya bukan sekadar mahasiswa turun ke jalan atau pemerintah menemui demonstran. Yang menjadi pertaruhan adalah bagaimana Pemkot Pasuruan menjawab kritik mengenai ketepatan sasaran anggaran dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, termasuk persoalan air bersih.

Mahasiswa sudah bersuara. Warga juga ikut mengeluh. Tinggal bagaimana pemerintah membuktikan bahwa kebijakan yang dijalankan benar-benar berpihak kepada masyarakat.(Tri/yus)