Pasuruan, Pojok Kiri
Usaha arang kayu menjadi pilihan Pak Darep, warga Dusun Jurangpelen Tegalan, Desa Bulusari, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, untuk mempertahankan perekonomian keluarga setelah pensiun dari pekerjaannya di sebuah pabrik. Di usia 68 tahun, ia memanfaatkan keterampilan membuat arang kayu yang dipelajarinya dari kerabat di Desa Sekantong, Kabupaten Mojokerto, sebagai sumber penghasilan baru.
Usaha yang belum genap berjalan satu tahun itu kini menjadi satu-satunya usaha pengarangan di Dusun Jurangpelen Tegalan. Produk arang hasil pembakarannya dipasarkan melalui agen dari Desa Sekantong yang datang langsung mengambil barang, sekaligus melayani kebutuhan pedagang kuliner lokal yang menggunakan arang sebagai bahan bakar.
Pak Darep mengaku mulai menekuni usaha tersebut setelah tidak lagi bekerja di pabrik. Keputusan itu diambil sebagai upaya menjaga kestabilan ekonomi keluarga, terlebih setelah membangun rumah tangga kembali bersama warga Dusun Jurangpelen Tegalan.
"Baru saja saya usaha ngareng ini, belum satu tahun," ujar Darep kepada awak media, Selasa (7/7/2026).
Menurutnya, usaha pengarangan di Desa Bulusari saat ini hanya dijalankan olehnya. Kondisi tersebut justru membuka peluang pasar karena permintaan arang tetap tersedia dan telah ditangani oleh agen yang secara rutin mengambil hasil produksi.
Dalam setiap proses produksi, Darep menggunakan kayu keras, baik dari limbah pabrik maupun kayu hutan setempat yang telah dikeringkan. Kayu dipotong sesuai ukuran tungku, kemudian disusun rapi sebelum dibakar.
Saat kayu mulai membara, tungku segera ditutup menggunakan tanah liat untuk membatasi masuknya oksigen. Teknik tersebut membuat kayu berubah menjadi arang, bukan menjadi abu. Seluruh proses pembakaran berlangsung sekitar empat hari hingga arang matang sempurna.
Setelah tungku dingin, arang disiram air untuk memastikan bara benar-benar padam. Selanjutnya arang dikemas ke dalam karung berkapasitas 15 hingga 30 kilogram sebelum dipasarkan kepada agen maupun pembeli lainnya.
Bahan baku berupa satu muatan pikap kayu dibeli dengan harga sekitar Rp400 ribu. Setelah melalui proses pengarangan, bahan tersebut mampu menghasilkan sekitar 15 karung arang. Setiap karung dijual seharga Rp75 ribu sehingga total nilai penjualan mencapai sekitar Rp1.125.000.
Dengan perhitungan tersebut, Darep memperoleh keuntungan kotor sekitar Rp725 ribu untuk setiap satu kali proses produksi, belum termasuk biaya operasional lainnya.
Nilai tersebut menjadi sumber penghasilan yang cukup berarti bagi seorang pensiunan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Keberhasilan Pak Darep menunjukkan bahwa keterampilan sederhana yang ditekuni dengan konsisten dapat menjadi peluang ekonomi di tengah keterbatasan. Di wilayah terpencil seperti Dusun Jurangpelen Tegalan, usaha arang kayu tradisional tidak hanya memberi manfaat bagi keluarganya, tetapi juga membuktikan bahwa potensi usaha berbasis sumber daya lokal masih memiliki prospek yang menjanjikan.(Syafii/Yus).
