Pasuruan, Pojok Kiri
Grebeg Suro di Pecinan Dusun Raos, Desa Carat, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Selasa (30/6/2026) malam, berlangsung khidmat dengan nuansa spiritual yang kental. Tradisi tahunan untuk menyambut Tahun Baru Islam atau 1 Suro itu kembali mempertemukan masyarakat, tokoh adat, pemerintah desa, serta pegiat budaya dalam satu rangkaian doa bersama sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus penghormatan kepada para leluhur yang berjasa membuka dan membangun wilayah tersebut.
Ritual digelar di kawasan Pecinan Raos, sebuah situs cagar budaya yang berada sekitar 50 meter dari aliran Kali Porong. Lokasi ini diyakini masyarakat sebagai bekas gerbang pelabuhan kuno atau pangkalan militer pada masa Kerajaan Singhasari hingga Majapahit.
Di kawasan tersebut berdiri dua arca penjaga gerbang setinggi sekitar dua meter yang hingga kini menjadi penanda sejarah sekaligus simbol penting dalam tradisi Grebeg Suro.
Prosesi diawali dengan doa yang dipimpin para bopo atau sesepuh adat. Mereka melantunkan doa-doa keselamatan, memohon keberkahan, serta mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT. Prosesi itu berlangsung berdampingan dengan penyajian sesaji atau uba rampe yang dipahami masyarakat sebagai simbol budaya Jawa dalam mengekspresikan rasa syukur kepada Sang Pencipta, bukan sebagai bentuk penyembahan.
Kepala Desa Carat, Fatoni, mengatakan tradisi tersebut terus dipertahankan sebagai bentuk syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT sekaligus penghormatan kepada para leluhur yang telah memberikan teladan bagi generasi penerus.
Menurutnya, masyarakat Jawa memiliki tradisi mengucapkan salam kepada leluhur sebagai bentuk penghormatan atas jasa mereka dalam membangun kehidupan masyarakat. Ia menegaskan bahwa seluruh rangkaian kegiatan bertujuan melestarikan budaya dan memperkuat rasa syukur kepada Allah SWT.
"Niat kita bukan untuk menyembah berhala, tetapi uri-uri budaya dan bersyukur kepada Allah SWT. Dengan bersyukur, semoga Allah memberikan rezeki dan keberkahan kepada kita," ujar Fatoni.
Ia juga menyampaikan bahwa masyarakat patut bersyukur dilahirkan di tanah Nusantara, khususnya Pulau Jawa yang menurutnya memiliki kekayaan budaya, sejarah, dan nilai-nilai luhur yang harus terus dijaga oleh generasi muda.
Camat Gempol, Hadi Mulyono, menyampaikan apresiasinya kepada masyarakat Desa Carat yang konsisten menjaga tradisi leluhur. Menurutnya, pelestarian budaya menjadi bagian penting dalam memperkuat identitas bangsa sekaligus menumbuhkan rasa cinta terhadap Indonesia.
Ia mengaku senang dapat hadir langsung dalam kegiatan tersebut karena memperoleh pemahaman lebih mendalam mengenai sejarah Pecinan Raos dan kekayaan budaya masyarakat Desa Carat.
Usai doa bersama, masyarakat mengikuti prosesi ucup tumpeng atau barikan. Sejumlah tumpeng lengkap dengan lauk-pauk seperti ayam goreng, urap, dan bubur Suro dibagikan sebagai simbol keselamatan, kebersamaan, serta harapan akan kehidupan yang harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan.
Rangkaian acara dilanjutkan dengan tradisi macapatan. Para bopo secara bergantian melantunkan tembang-tembang macapat, mulai Maskumambang, Pangkur Tolak Balak, Dhandhanggula, hingga ditutup dengan tembang Ilir-ilir. Setiap tembang memuat pesan moral, tuntunan hidup, dan nilai spiritual yang selama berabad-abad diwariskan dalam budaya Jawa.
Sesepuh Desa Carat, Bopo Sumo, mengajak para pegiat budaya dan sesepuh agar terus menularkan pengetahuan kepada generasi muda. Menurutnya, regenerasi menjadi kunci agar tradisi lokal tidak hilang akibat derasnya perkembangan teknologi dan masuknya budaya asing yang tidak selalu sejalan dengan nilai-nilai kesopanan masyarakat Jawa.
Pelaksanaan Grebeg Suro di Pecinan Raos tidak hanya menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga memperkuat kebersamaan warga, menjaga warisan sejarah, serta menjadi media edukasi bagi generasi muda untuk mengenal identitas budayanya. Dukungan masyarakat dan pemerintah diharapkan mampu menjaga keberlangsungan tradisi ini sehingga tetap hidup sebagai bagian dari kekayaan budaya Kabupaten Pasuruan.(Syafi'i/yus).
