Header Ads Widget

Hosting Unlimited Indonesia

Ticker

6/recent/ticker-posts

Sedekah Bumi Jurangpelen Perkuat Tradisi Gotong Royong Warga Dusun



Pasuruan, Pojok Kiri 
Sedekah Bumi Dusun Jurangpelen 1, Desa Bulusari, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan berlangsung meriah selama tiga hari. Rangkaian kegiatan diawali dengan cek sound pada Sabtu (27/6/2026) malam yang berjalan lancar tanpa kendala. Memasuki Minggu (28/6/2026), warga menggelar arak-arakan ancak dari balai dusun menuju petilasan Watu Rantai sebagai bagian dari prosesi ruwah dusun atau selamatan desa.
Sore harinya, masyarakat melanjutkan kegiatan dengan karnaval dan pentas seni, sedangkan penutupan dijadwalkan pada Senin (29/6/2026) melalui pagelaran Ludruk Karya Baru.
Seluruh rangkaian acara berlangsung tertib berkat antusiasme masyarakat. Warga dari 10 RT dan 4 RW di Dusun Jurangpelen 1 terlibat aktif dalam setiap persiapan hingga pelaksanaan kegiatan yang dibiayai melalui swadaya masyarakat.

Kepala Dusun Jurangpelen 1, Maryono, mengatakan bahwa tujuan utama penyelenggaraan sedekah bumi adalah memanjatkan rasa syukur kepada Tuhan sekaligus memohon keselamatan bagi seluruh warga dusun. Menurutnya, tradisi tersebut juga menjadi sarana mempererat persaudaraan dan menjaga semangat gotong royong di tengah masyarakat.
"Alhamdulillah rangkaian acara bisa terlaksana selama tiga hari. Semua ini berkat kekompakan dan gotong royong warga," ujar Maryono.

Ia menjelaskan, tradisi ruwah dusun bukanlah kegiatan baru. Jauh sebelum dirinya menjabat sebagai kepala dusun pada tahun 2000, masyarakat telah melaksanakan tradisi tersebut secara turun-temurun. Selama sekitar 25 tahun memimpin Dusun Jurangpelen 1, dirinya hanya berupaya mempertahankan dan meneruskan warisan budaya yang telah diwariskan para leluhur.

Menurut Maryono, Dusun Jurangpelen tidak memiliki punden berupa makam leluhur. Namun, masyarakat memiliki sebuah petilasan yang dikenal sebagai Watu Rantai dan hingga kini menjadi pusat pelaksanaan upacara adat setiap ruwah dusun.

Watu Rantai menyimpan cerita rakyat yang masih hidup di tengah masyarakat. Berdasarkan tuturan para sesepuh, terdapat beberapa versi mengenai asal-usul batu besar yang menyerupai bentuk rantai tersebut. Salah satu legenda menyebutkan bahwa batu itu merupakan sisa rantai kapal besar yang pernah terdampar di kawasan Gempol dan memiliki kaitan dengan kisah Gunung Perahu serta jalur transportasi kuno di kawasan Kali Porong.

Hingga kini, petilasan Watu Rantai tetap dirawat oleh masyarakat. Lokasi yang berada di bawah rindangnya pepohonan itu dianggap sebagai tempat sakral dan menjadi pusat pelaksanaan berbagai tradisi adat, termasuk sedekah bumi atau ruwah dusun setiap tahun.

Maryono berharap tradisi tersebut tidak berhenti meski dirinya segera mengakhiri masa jabatan. Ia mengungkapkan bahwa dirinya telah menjabat selama 25 tahun dan tinggal menyelesaikan satu kali lagi pelaksanaan ruwah dusun sebelum memasuki masa purnatugas.

"Saya berharap pengganti saya nanti bisa meneruskan tradisi ini. Jangan sampai masyarakat memutus tradisi yang telah diwariskan nenek moyang. Tradisi ini mengajarkan kita untuk menghormati leluhur, menjaga kekompakan, dan memperkuat gotong royong," tuturnya.

Sedekah Bumi Dusun Jurangpelen 1 tidak hanya menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga menjadi ruang kebersamaan yang mempertemukan seluruh lapisan masyarakat. Melalui tradisi yang terus dijaga secara turun-temurun, warga berharap semangat persatuan, gotong royong, serta penghormatan terhadap warisan leluhur tetap hidup dan menjadi bekal bagi generasi penerus dalam menjaga identitas budaya dusun.(Syafi'i/Yus).