PASURUAN, Pojok Kiri
— Konflik UNUBA yang berlangsung dalam beberapa waktu terakhir belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian. Perselisihan terkait pengelolaan Universitas Nahdlatul Ulama Bangil (UNUBA) antara Yayasan Pancawahana dan jajaran PCNU Bangil masih berlanjut hingga berdampak pada aktivitas akademik mahasiswa.
Ketua Pembina Yayasan Pancawahana, Muhammad Najib Syafi'i, menyatakan pihaknya telah berupaya membuka jalur komunikasi dan mediasi dengan pengurus PCNU Bangil. Namun, hingga saat ini surat resmi yang dikirimkan yayasan belum mendapatkan tanggapan.
“Upaya mediasi sudah kami lakukan dengan berkirim surat resmi, tetapi belum ada respons. Kondisi ini akhirnya berdampak pada kegiatan belajar mahasiswa,” ujar Gus Najib saat ditemui di kediamannya, Kamis (18/6/2026).
Menurutnya, di tengah situasi yang belum menemukan titik temu, yayasan memilih memprioritaskan keberlangsungan pendidikan mahasiswa. Fokus utama saat ini adalah memastikan proses perkuliahan tetap berjalan serta menyiapkan sarana dan prasarana pembelajaran bagi mahasiswa baru.
Gus Najib menegaskan bahwa pihaknya tidak ingin mahasiswa menjadi korban dari konflik internal yang berkepanjangan. Karena itu, yayasan mengambil langkah sementara dengan memindahkan kegiatan perkuliahan ke Gedung SMK Nurusshobah yang masih berada di bawah naungan yayasan.
“Sementara kita mengalah, mahasiswa biar sekolah di sini,” katanya.
Ia menjelaskan, mahasiswa yang saat ini mengikuti perkuliahan di lokasi tersebut berasal dari Fakultas Tarbiyah dengan tiga program studi, yakni Pendidikan Agama Islam (PAI), Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), dan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD).Meski demikian, Gus Najib mengaku tidak mempermasalahkan apabila ada mahasiswa yang tetap memilih mengikuti kegiatan akademik di kampus UNUBA.
“Kami tidak memaksa atau menarik mahasiswa yang ada di sana. Kalau ada yang kuliah di kami silakan, tidak kuliah di sini juga tidak apa-apa. Itu urusan masing-masing,” ujarnya.
Di tengah polemik yang belum terselesaikan, Yayasan Pancawahana mulai menyiapkan alternatif berupa pendirian perguruan tinggi dengan nama baru, yakni Universitas Pancawahana (UNIPA).
Langkah tersebut diambil sebagai bentuk antisipasi apabila konflik terkait penggunaan nama Nahdlatul Ulama terus berlanjut. Menurut Gus Najib, perguruan tinggi baru tersebut akan berdiri tanpa menggunakan identitas NU dalam penamaannya.
“Kita akan ganti nama menjadi Universitas Pancawahana (UNIPA). Kita lelah, kita ajak damai tidak mau,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan bahwa secara legalitas, Yayasan Pancawahana yang dipimpinnya telah memiliki dasar hukum yang sah. Karena itu, dirinya tetap meyakini bahwa posisi Ketua Pembina yang saat ini dijabatnya memiliki kewenangan sesuai ketentuan yang berlaku.
“Pastinya secara legalitas kami Ketua Pembina yang memiliki wewenang kekuasaan,” tegasnya.
Selain itu, Gus Najib menyatakan pihaknya memiliki lahan di sekitar kawasan kampus saat ini yang dapat digunakan untuk pembangunan kampus baru apabila diperlukan.
Terkait langkah sejumlah mahasiswa yang meminta pendampingan hukum kepada DPC PERADI Bangil, Gus Najib menilai hal tersebut merupakan hak mahasiswa sebagai bentuk respons atas situasi yang mereka hadapi.
“Itu hak mahasiswa. Kami tidak ikut campur karena itu bentuk kegelisahan mereka,” katanya.
Ia menambahkan, apabila ada pihak yang membutuhkan klarifikasi terkait persoalan yang berkembang, yayasan siap memberikan penjelasan sesuai fakta yang dimiliki.
Di akhir keterangannya, Gus Najib berharap konflik internal Yayasan Pancawahana dan pengelolaan UNUBA dapat segera menemukan jalan keluar melalui komunikasi yang konstruktif. Namun apabila tidak tercapai kesepakatan, yayasan mengaku siap menempuh langkah alternatif demi menjaga keberlangsungan pendidikan mahasiswa.
“Kalau memang tidak ada jalan keluar, terpaksa kami bangun kampus baru nantinya,” pungkasnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa di tengah konflik yang masih berlangsung, keberlanjutan pendidikan mahasiswa tetap menjadi isu utama yang akan menentukan arah masa depan lembaga pendidikan tinggi tersebut.(Syafi'i/Yus).
