Header Ads Widget

Hosting Unlimited Indonesia

Ticker

6/recent/ticker-posts

Menguak Misteri Tokoh Legendaris, Sumolewo Aris Japanan, Di Mana Makamnya!!?



Pasuruan, Pojok Kiri
Pada masa pemerintahan awal Kasultanan Mataram, yang dipimpin oleh Panembahan Senapati, dalam kitab "Babad Tanah Jawi Pesisiran"
menyebutkan bahwa wilayah Malang ditempatkan dalam kategori "Mancanegara atau Brang Wetan" oleh Mataram. Setelah ekspansi militer yang dilakukan oleh Mataram pada tahun 1614.

Kadipaten Malang dipimpin Adipati Ronggo Toh Jiwo, yang mempunyai anak perempuan bernama Roro Proboretno, berparas ayu rupawan dan memiliki ilmu kanuragan dengan keahlian menggunakan senjata toya. Dengan kelebihan ini banyak pemuda mengagumi dan ingin
mempersuntingnya.

Kedatangan kesultanan Mataram mengakibatkan situasi politik di Kadipaten Malang kurang stabil. Prajurit yang dahulu gagah berani kini telah berada di bawah kendali raja lain. Oleh karena itu, Adipati Malang berkeinginan untuk memiliki pasukan yang kuat dan dipimpin oleh seorang panglima perang yang sakti mandraguna.

Melihat anaknya Roro Proboretno semakin dewasa, Adipati Ronggo Toh Jiwo berkeinginan untuk menikahkan putrinya. Namun
Proboretno menolak, hanya akan mau menikah jika suaminya memiliki kedigdayaan yang setara atau lebih dengan dirinya. 

Dengan latar belakang inilah, Adipati membuka sayembara yang berbunyi, "Barang siapa yang bisa mengalahkan kesaktian anakku, dan dapat membuka Gowa Boring, akan
diangkat menjadi Senopati dan dijadikan suami Proboretno.

Berita ini sampai ke
daerah-daerah, termasuk sampai ke telinga Aris Japanan yang bernama Sumolewo. ( Aris adalah jabatan pemerintahan yang membawahi beberapa desa). 

Perlu diketahui, Menurut Serat Kekancingan Ngewrat tahun 1688-1696, tercatat R.T.A.Notoadiningrat (Bupati Bangil), Mas Ngabehi Kromodipuro (Patih Bangil), Mas Ngabehi Wiryodipuro (Wedana Gempol), Ngabehi Puspoyudo (Demang Kepulungan), Ngabehi Sumodirejo (Aris Kejapanan), Ngabehi Puspodiwongso (Demang Kepulungan), Mas Ngabehi Kromoadikusumo (Aris Kejayan).  

Hal ini menunjukkan bahwa mulai era Sultan Agung Demang Japanan (Lurah Kejapanan) saat itu ber juluk Sumo, sedang Aris adalah pimpinan lurah-lurah yang setara dengan Camat sekarang).

Sumolewo Aris Japanan sebenarnya seorang yang sakti, selain ambisinya untuk menjadi Adipati Malang, Sumolewo juga terpikat dengan kecantikan Proboretno.

Hal ini disampaikan kepada istrinya (Kasanah) untuk mengikuti sayembara di
Kadipaten Malang. Jika berhasil memenangkan sayembara itu Sumolewo berharap bisa jadi Adipati Malang dan mendapatkan permaisuri Praboretno.

Sebenarnya Kasanah (istri
Sumolewo) sangat keberatan dengan tujuan tersebut tetapi apa daya, dia seorang wanita yang tidak bisa melawan
kehendak suami. Akhirnya Khasanah menyetujui dengan syarat karena saat ini dia sedang hamil lima bulan, maka dia minta supaya diikuti setelah anaknya lahir.

Sumolewo merasa keberatan
dengan waktu yang cukup lama karena masih harus menunggu empat bulan lagi.
Maka dia mengatakan bahwa sayembara ini akan segera ditutup oleh karena itu boleh tidak boleh dia harus mengikuti dan ia minta supaya Kasanah menyetujui dan menyerahkan pusaka keris Kyai Kala Bajang. 

"Restu itu harus didapat dari Khasanah, karena kelemahan Sumolewo ada di istrinya". 

Kasanah bersikukuh tidak mau
menyetujui jika belum anaknya lahir dan dia tidak akan menyerahkan keris itų
sebelum pekerjaan yang harus dilaku sesuai dengan janjinya. 

Di Ruang balai rumahnya Sumolewo marah besar dan akan membunuh khasanah jika tidak menyetujuinya. Lalu Khasanah pura-pura menyetujuinya dan akan mengambilkan keris, tetapi Khasanah lari lewat belakang dan pergi meninggalkan Sumolewo sambil membawa keris Kyai Kala Bajang.

Di tunggu lama tidak kunjung bawa keris, Sumolewo teriak, "Kasanah! Kasanah! Kok suwe men, Lapo ae?? Ndi kerise??.. ternyata tidak ada jawaban, dia baru sadar bahwa Kasanah melarikan diri lewat pintu belakang. 

Maka Sumolewo marah
besar, ia mengejar istrinya, jika ketemu akan dibunuh.
Kasanah pergi ke rumah orang
tuanya, untuk mengadukan sesuatu yang terjadi. Maka oleh orang tuanya, Kasanah
disarankan pergi ke gunung
Penanggungan tempat guru Sumolewo yaitu Ki Japar Sodik.

Belum berselang lama, datanglah Sumolewo dengan marah-marah mencari istrinya. Kedua orang tua Kasanah mengetahui watak Sumolewo
yang keras kepala dan sedikit kejam, maka mereka menutupi/berbohong jika
Kasanah dari sini. Kemudian terjadi adu mulut yang akhirnya Sumolewo menghajar orang tua Kasanah, hingga babak belur.

Maka mengakulah orangtua khasanah, kalau khasanah memang baru dari sini, sekarang disuruh kelereng gunung penanggungan mendatangi gurunya. Sumolewo tanpa pamit pergi ke padepokannya mengejar Khasanah. 

Di padepokan gunung Penanggungan Ki Japar Sodik mengetahui bahwa Kasanah akan datang, setelah dipersilahkan kemudian ditanyakan kenapa lari-lari menuju padepokan. Kasanah
menceritakan semua kejadiannya tentang keinginan Sumolewo hingga ia lari ke padepokan ini. 

Sekarang Kasanah pasrah kepada guru Ki Japar Sodik akan keputusan ini serta menyerahkan keris pusaka Kyai Kala Bajang.

Ki Japar Sodik menyanggupi permintaan Kasanah dan berjanji untuk mengingatkan Sumolewo. Setelah Kasanah masuk, Sumolewo datang dengan hormat menyembah pada gurunya. Setelah bercerita panjang lebar, maka Sumolewo minta agar gurunya menyetujui rencana Sumolewo untuk mengikuti sayembara tersebut.

Sebenarnya Ki Japar Sodik merestui asalkan sudah lahir anak yang dikandung istrinya. Tapi Sumolewo tetap menolak, hingga terjadi perdebatan
yang akhirnya Sumolewo menusukkan kerisnya ke tubuh gurunya.

Begawan Sidik Wacana deketika itu meninggal, namun sebelum sukmanya pergi sempat berpesan kepada Sumolewo, harus hati-hati, nanti jika ketemu laki-laki muda dari timur memakai anting-anting sebelah, maka dialah yang akan mengalahkan Sumolewo sebagai Ngundhuh wohing panggawe (memetik buah dari perbuatan sendiri).  

Dengan pernyataan tersebut, maka Sumolewo bersumpah untuk membunuh semua
laki-laki dari Timur (Madura) yang menggunakan anting-anting.Bersambung. (Syafii/Yus).