Pasuruan, Pojok Kiri
Selama bertahun-tahun, Dana Desa menjadi tongkat penyangga pembangunan di desa. Seperti sosok orang buta yang ketergantungan pada tongkat yang dipegangnya.
Jalanan dicor, gedung ditegakkan, bantuan dibagikan. Desa memang bergerak, tetapi sering kali bukan karena dituntun visi—melainkan karena diseret oleh dana. Dikemanakan dan untuk apa!!??
Maka ketika tongkat itu dipendekkan, dia tak bisa berdiri tegak, punggungnya membungkuk, langkahnya tertatih-tatih bahkan sampai tersungkur. Pembangunan yang sudah diproyeksikan kini tak bisa berlari kencang seperti semula, bahkan ada yang berhenti total, meski itu butuh kelanjutan.
Tidak hanya pembangunan desa secara fisik dan non fisik. Hal ini juga berdampak pada sumber ekonomi kepala desa atau perangkat desa. Apalagi Keparahan ini ditambah dengan Surat Keputusan (SK) Pengangkatan yang sudah terlanjur dijaminkan ke Bank. Keberanian ini dirasa masih ada sumber lain dari pundi-pundi pengolahan Dana-Desa.
Seperti yang terjadi di kabupaten Banyuwangi. Penghematan anggaran yang diberlakukan pemerintah pusat turut berimbas pada penghasilan tetap (Siltap) perangkat desa di Kabupaten Banyuwangi. Untuk memenuhi kehidupan ekonominya, sampai-sampai Perangkat Desa Nyambi bekerja sebagai tukang atau kuli bangunan. Bahkan perangkat desa yang berstatus honorer banyak yang mengundurkan diri. Tak hanya perangkat, kepala desa juga di buat pusing kepala, akhirnya kades lebih memilih pasrah.
Untuk itu saat ini kepala desa dan perangkatnya di uji, siapa yang selama ini berdiri tegak dengan gagasan, dan siapa yang selama ini hanya hidup dari belanja, bukan dari pikiran. Kalimat inilah yang akan jadi cermin kepemimpinan kepala desa sekarang.
Karena mulai tahun ini 2026, angka dalam tabel dikoreksi, anggaran dana desa terjadi pengurangan besar-besaran. Bukan sekadar koreksi, ini adalah cermin besar yang mendadak ditegakkan di hadapan wajah kepemimpinan desa. Tidak semua orang siap menatap pantulan cermin kejujuran, karena disana tampak jelas siapa kepala desa yang benar-benar mengabdi untuk rakyat, dan mana kepala desa yang memperkaya diri.
Saat dana-desa dikucurkan kerekening desa, hampir semua tampak bekerja. Otak malaikat dan otak iblis mulai intervensi. Ada program yang benar-benar berjalan sesuai kemanfaatannya, juga ada yang berjalan hanya sekedar mencari keuntungan pribadi. Proyek bergulir, laporan menebal. Namun ketika anggaran menyusut, seperti saat ini, barulah terang siapa pemimpin dan siapa sekadar pengelola kas. Bersambung. (Syafii/Yus).
