Header Ads Widget

Hosting Unlimited Indonesia

Ticker

6/recent/ticker-posts

Kasus Covid-19 Menurun, BOR RSUD Bangil Tak Lagi Penuh



Pasuruan, Pojok Kiri
Kasus Covid-19 di Kabupaten Pasuruan menunjukkan tren penurunan. Dampaknya, tingkat keterisian tempat tidur pasien Covid-19 di RSUD Bangil mengalami penurunan. 

Direktur RSUD Bangil, dr Arma Roosalina menyampaikan, saat ini Bed Occupancy Rate (BOR) pasien Covid-19 di ruang isolasi terisi 70 persen. Sehingga, kapasitas tempat tidur untuk pasien Covid-19 masih tersedia. Bila kondisinya tidak berat, maka bisa langsung dipindahkan ke ruang isolasi.

"Alhamdulillah, BOR untuk pasien covid-19 tidak lagi overlod. Karena ada kapasitas yang tersedia, 30 persen dari kemarin-kemarin yang sampai penuh. Sekarang, total sekitar 70% BOR di RSUD Bangil," kata Arma.

Ia menambahkan, jumlah tempat tidur di ruang isolasi Covid-19 yang terisi pasien sebanyak 102 orang. Dengan rincian 14 pasien di ruang dahlia, 36 pasien di ruang teratai, 12 orang di ruang edelweis, 10 pasien di ruang anggrek, 28 orang di ruang melati, 1 orang di Asoka dan 1 orang di Alamanda. Sedangkan total jumlah tempat tidur yang tersedia adalah 149 buah. 




Menurutnya, penurunan BOR ruang isolasi di RSUD Bangil tak lain atas kerja sama semua pihak. Mulai dari seluruh tenaga kesehatan dan semangat para pasien untuk bisa menang melawan Covid-19.

"Terpenting adalah tindakan cepat. Begitu datang langsung ditangani, sehingga yang dirujuk itu tidak kondisi yang jelek. Makin cepat tertangani makin baik. Mudah-mudahan turun terus," harapnya.

Hanya saja, untuk BOR di ruang HCU/ICU hingga sekarang masih penuh. Dijelaskan Arma, total ada 20 tempat tidur pada ruangan HCU RSUD Bangil. Rencananya, dalam beberapa hari ke depan, pihaknya akan menambah jumlah tempat tidur di ruangan HCU.

"Rencananya akan kita tambah dengan cara memodifikasi ruangan yang sudah ada," singkatnya.




Sementara itu, menurunnya BOR di RSUD Bangil juga disebabkan semakin banyaknya tempat isolasi pasien Covid-19 bergejala ringan, yakni di isoter (isolasi terpusat) kecamatan. Hal itu mencegah gejala ringan menjadi sedang atau berat. Sehingga tidak perlu dirujuk ke rumah sakit.

"Paling tidak, ini mengurangi risiko klaster keluarga dan pengamatan kami lebih terfokus kalau ada apa-apa segera dirujuk," ungkapnya.

Lebih lanjut Anang menambahkan, penerapan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Level juga berkontribusi terhadap penurunan kasus Covid-19. PPKM dinilai menjadi upaya pengendalian Covid-19 di hulu yang harus benar-benar dipatuhi.

"Sesuai intruksi Bupati Iryad Yusuf, Pemda berharap sebetulnya masyarakat itu jangan merasa dipaksa dengan PPKM ini, tapi itu suatu kebutuhan kita sebetulnya. Kalau masyarakat ingin selamat segera bangkit ya itu sebagai kebutuhan. Saya selalu sampaikan bahwa protokol kesehatan itu sebagai gaya hidup sebagai kebutuhan bukan sebagai kewajiban," bebernya.(yus)