Pasuruan, Pojok Kiri
Ruwat Dusun menjadi puncak peringatan Tahun Baru Hijriah 1 Muharram 1448 H atau Malam 1 Suro di Dusun Bangkok, Desa Karangrejo, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan. Warga kembali menggelar rangkaian Ruwat Dusun dan Haul Mbah Sapulogo yang dipusatkan di halaman punden makam Mbah Sapulogo, Minggu (27/6/2026).
Kegiatan tersebut dimeriahkan dengan pagelaran wayang kulit sejak pagi hingga semalam suntuk sebagai bentuk pelestarian budaya sekaligus penghormatan kepada leluhur yang telah berjasa membuka wilayah tersebut.
Acara berlangsung meriah dengan dihadiri unsur Muspika Kecamatan Gempol, pemerintah desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta ratusan warga dari berbagai daerah. Antusiasme masyarakat terlihat sejak pagi hari hingga pertunjukan berakhir menjelang malam.
Suasana penuh kebersamaan dan kekeluargaan menjadi ciri khas kegiatan tahunan yang terus dipertahankan oleh masyarakat Dusun Bangkok.
Dua Lakon Sarat Makna Kehidupan
Pagelaran wayang kulit menghadirkan Ki Dalang Slamet Dharmawan dari Watugolong, Krian, Kabupaten Sidoarjo.
Penampilan dalang tersebut tidak hanya menghibur masyarakat, tetapi juga menyampaikan pesan moral yang relevan dengan kehidupan saat ini melalui dua lakon yang berbeda.
Pada sesi siang, Ki Dalang membawakan lakon Lahire Dasamuka yang mengisahkan kelahiran Rahwana sebagai simbol lahirnya angkara murka akibat pelanggaran terhadap ajaran Sastra Jendra Hayuningrat. Kisah tersebut menceritakan bagaimana Dewi Sukesi dan Resi Wisrawa gagal mengendalikan hawa nafsu sehingga melahirkan Dasamuka, sosok raksasa berkepala sepuluh dan bertangan dua puluh yang melambangkan kesombongan, ambisi, serta keinginan tanpa batas.
Sementara itu, pertunjukan malam menghadirkan lakon Dosomuko Bandar (Dosomuko Dadi Rojo Ngalengko) yang menggambarkan ambisi Prabu Dasamuka untuk menguasai berbagai wilayah demi memenuhi hasrat kekuasaan. Keinginan tersebut memicu konflik besar dengan para ksatria yang memperjuangkan kebenaran dan keadilan.
Lakon ini mengajarkan bahwa keserakahan dan kekuasaan yang tidak terkendali pada akhirnya akan membawa kehancuran.
Kepala Dusun Bangkok, Ari, menilai kedua lakon pewayangan tersebut memiliki makna yang sangat dekat dengan kondisi kehidupan masyarakat saat ini.
"Percaya atau tidak, lakon tersebut adalah gambaran kehidupan, keadaan saat ini, entah di masyarakat, pemerintah, atau negara," ujar Ari.
Menurutnya, wayang kulit bukan sekadar hiburan tradisional, melainkan media pendidikan yang menyampaikan nilai-nilai moral, kebijaksanaan, serta ajaran untuk mengendalikan hawa nafsu, menghindari keserakahan, dan menjaga persatuan.
Penampilan khas Ki Dalang Slamet Dharmawan juga mendapat apresiasi dari masyarakat karena mampu mengemas pesan-pesan kehidupan melalui dialog, humor, serta alur cerita yang mudah dipahami berbagai kalangan usia.
Kepala Desa Karangrejo, M. Suud, dalam sambutannya menyampaikan kebanggaannya kepada warga Dusun Bangkok yang tetap konsisten menjaga tradisi Ruwat Dusun dan Haul Mbah Sapulogo setiap tahun. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi bukti nyata komitmen masyarakat melalui Paguyuban Mbah Sapulogo dalam menjaga identitas budaya sekaligus memperkuat persaudaraan antarwarga.
"Saya bangga dengan warga Dusun Bangkok yang mampu menjaga tradisi ini. Tradisi ini tidak boleh punah. Tetap komitmen setiap tahun selalu mengadakan seperti ini," kata Suud.
Sementara itu, mewakili Camat Gempol Hadi Mulyono, Kepala Seksi Pemerintahan Teguh memberikan apresiasi kepada seluruh panitia dan masyarakat yang terus melestarikan adat istiadat warisan leluhur.
"Semoga melalui kegiatan ini harapan kita keberkahan, kerukunan, dan keselamatan tetap menyertai seluruh warga Desa Karangrejo, khususnya Dusun Bangkok, selalu diberi keberkahan, limpahan rezeki, dan kesehatan," ujarnya.
Teguh berharap tradisi Ruwat Dusun terus dipertahankan agar nilai-nilai sejarah, budaya, dan spiritual tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Ia menegaskan bahwa warisan budaya harus dijaga, dipahami, dan diwariskan kepada generasi muda agar tidak hilang oleh perubahan zaman.
Ruwat Dusun dan Haul Mbah Sapulogo kembali membuktikan bahwa pelestarian tradisi mampu menjadi perekat sosial di tengah masyarakat. Melalui budaya, doa bersama, dan pagelaran wayang kulit, warga Dusun Bangkok tidak hanya merawat warisan leluhur, tetapi juga memperkuat semangat gotong royong, persatuan, dan identitas desa sebagai modal penting dalam membangun masa depan yang harmonis.(Syafi'i/Yus).
