Header Ads Widget

Hosting Unlimited Indonesia

Ticker

6/recent/ticker-posts

Jadi Pemicu Kematian Bayi dan Anak, Penyakit Jantung Bawaan Patut Diwaspadai


PASURUAN, pojok kiri
Penyakit Jantung Bawaan (PJB) merupakan salah satu penyakit yang patut diwaspadai orang tua. Karena menjadi salah satu penyebab kematian yang kerap menyerang bayi dan anak.

Data epidemiologi di Indonesia menyebutkan, angka kejadian PJB mencapai 8 kasus dari setiap 1000 kelahiran. Setiap tahunnya, ada penambahan hingga 32 ribu kasus baru yang ditemukan. Hal inilah yang patut diwaspadai orang tua, untuk menjamin kesehatan anaknya.

Spesialis Dokter Jantung dan Pembuluh Darah RSUD Bangil, dr. David Rubiyaktho, Sp.JP menguraikan, penyakit jantung bawaan adalah kelainan pada struktur dan fungsi jantung yang sudah ada sejak lahir. Penyakit jantung bawaan ini terdiri dari berbagai jenis. Untuk mempermudah dalam membedakannya, bisa terbagi dua. 

Yakni penyakit jantung bawaan sianotik atau asianotik. "Cirinya, sianotik membuat bayi tampak kebiruan. Sementara untuk asianotik tidak," ujarnya. 

Ia menambahkan, ada beberapa faktor yang dapat berisiko menyebabkan PJB. Selain gangguan genetik, misalnya down`s sindrom atau riwayat PJB keluarga, juga kelainan saat kehamilan seperti diabetes, infeksi, kelahiran prematur, keracunan dan lain-lain.

"Selain itu, beberapa pemicu PJB dapat terjadi tanpa diketahui sebabnya," imbuhnya.


Menurut Dokter David, bayi yang menderita PJB, dapat menunjukkan bervariasi tanda dan gejala. Namun, banyak pula kasus, yang tidak bergejala sampai usia dewasa.

PJB yang tidak segera dideteksi dan tidak diobati berisiko menyebabkan gagal jantung ataupun kematian. "Variasi gejala klinis dan besarnya risiko tersebut membuat kita harus lebih mewaspadai PJB ini pada bayi dan anak. Disinilah kita sudah mulai harus mengenal bagaimana deteksi dini dari PJB sejak bayi dan anak," imbaunya.

Deteksi dini, kata Dokter David, dapat dimulai sejak fase kehamilan.  Dimana, pada kehamilan ibu dengan risiko tinggi, dapat dilakukan deteksi dengan echokardiografi fetal. Tidak semua rumah sakit memiliki fasilitas tersebut. Hanya beberapa rumah sakit atau fasilitas kesehatan khusus. 

Ia menguraikan, pada saat bayi baru lahir, dapat dikerjakan pemeriksaan pulse oximetri. Yakni dengan mengukur kadar oksigen di jari-jari. Baik tangan dan kaki yang kadar normalnya di atas 95 persen. 

Hasil pengukuran kadar oksigen yang kurang dari 90 persen, mengindikasikan kemungkinan adanya PJB pada bayi atau anak. Sehingga disarankan segera dirujuk ke Rumah Sakit terdekat. "Kondisi tersebut memerlukan pemeriksaan lanjutan seperti elektrokardiografi(EKG), foto ronsen dan Echocardiografi oleh dokter spesialis anak dan dokter spesialis jantung," bebernya. 

Disampaikan Dokter David, sebagai rumah sakit rujukan, RSUD Bangil telah meningkatkan kemampuan pelayanan deteksi dini PJB. Bahkan, untuk lebih mendekatkan diri kepada masyarakat, klinik jantung menggelar serangkaian kegiatan langsung ke masyarakat, Sabtu (19/11). Mulai dengan memberikan layanan penyuluhan kesehatan jantung anak,  serta melakukan pemeriksaan echokardiografi pada puluhan bayi dan anak yang diduga menderita PJB. 

"Kegiatan semacam ini diharapkan mampu,  lebih mengenalkan kepada masyarakat tentang pentingnya deteksi dini pada PJB dan gambaran secara jelas apa yang bisa dikerjakan dalam pengobatan lanjutan pasien PJB," tandasnya.(yus)