Header Ads Widget

Hosting Unlimited Indonesia

Ticker

6/recent/ticker-posts

Tradisi Bari'an Kenang Perjuangan R.M. Proyo di Legok



Pasuruan, Pojok Kiri 
 – Tradisi Bari'an kembali digelar warga Dusun Legok, Desa Legok, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, sebagai bentuk penghormatan kepada Raden Mas (R.M.) Proyo, tokoh yang diyakini masyarakat sebagai bagian dari Laskar Mataram yang berjuang mempertahankan kewibawaan Kerajaan Mataram. Kegiatan tahunan itu akan berlangsung pada Minggu, 5 Juli 2026, dengan pusat pelaksanaan di kawasan makam R.M. Proyo yang juga dikenal sebagai Mbah Mentaram atau Mbah Sentono.

Selain menjadi agenda doa bersama memohon keselamatan dan keberkahan bagi seluruh warga, Bari'an juga menjadi momentum masyarakat menjaga tradisi leluhur sekaligus mempererat kebersamaan antargenerasi. Hingga kini, tradisi tersebut tetap dipertahankan sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Dusun Legok.

Sesepuh Dusun Legok, Ustadz Salim atau yang akrab disapa Mbah Samber, menjelaskan bahwa tokoh yang dimakamkan di punden tersebut memiliki beberapa nama yang dikenal masyarakat secara turun-temurun. Menurutnya, nama asli tokoh tersebut adalah Raden Mas Proyo.

"Yang ada di makam ini namanya Mbah Mataram atau Mbah Sentono, tetapi nama aslinya Raden Mas Proyo. Karena berasal dari Kerajaan Mataram, masyarakat juga mengenalnya sebagai Mbah Mentaram. Sedangkan sebutan Mbah Sentono muncul karena di sekitar makamnya dahulu ditumbuhi pohon sentono," ujar Mbah Samber.

Ia menuturkan, berbagai penyebutan tersebut berkembang melalui tradisi lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Hingga saat ini, makam R.M. Proyo tetap menjadi pusat pelaksanaan Bari'an dan dihormati oleh masyarakat sekitar.

Berdasarkan pantauan di lokasi, makam R.M. Proyo berada di dalam sebuah pendopo sederhana. Di sekitar area makam masih terdapat sejumlah batu bata berukuran besar yang diyakini warga sebagai peninggalan masa lampau. Namun, hingga kini belum ada penelitian arkeologi yang dapat memastikan asal-usul benda-benda tersebut.

Tak jauh dari lokasi makam, masyarakat juga mengenal kawasan yang disebut Sawah Candi. Menurut cerita turun-temurun, lokasi tersebut dipercaya pernah menjadi tempat berdirinya sebuah bangunan candi. Meski demikian, informasi tersebut masih sebatas sejarah lisan dan belum didukung bukti ilmiah maupun penelitian arkeologis.

Dalam cerita yang berkembang di tengah masyarakat, R.M. Proyo disebut pernah menjadi bagian dari perjuangan melawan penjajah Belanda. Saat dikejar pasukan Belanda di wilayah timur Dusun Patuk, ia dikisahkan menyamar sebagai warga biasa dengan berbaur di permukiman penduduk agar tidak dikenali.

Lokasi persembunyian tersebut kemudian dipercaya menjadi asal-usul nama Dusun Tempel. Setelah berhasil menghindari kejaran, R.M. Proyo melanjutkan perjalanan ke arah selatan hingga tiba di Dusun Legok.

Menurut kisah yang diwariskan para sesepuh, setiap kali hendak meninggalkan Dusun Legok, R.M. Proyo selalu kembali ke tempat yang sama karena merasa jalan yang dilalui terus berputar dan tidak membawanya keluar dari kawasan tersebut. Peristiwa itu diyakini menjadi alasan dirinya menetap di Dusun Legok hingga akhir hayatnya.

Masyarakat juga meyakini selama tinggal di Dusun Legok, R.M. Proyo banyak membantu warga mengembangkan pertanian, mulai dari membuka lahan, mengajarkan teknik bercocok tanam, hingga mendampingi masa panen. Nilai gotong royong dan kebersamaan yang diwariskannya masih dikenang oleh masyarakat hingga sekarang.

Tradisi Bari'an yang akan digelar pada 5 Juli 2026 menjadi wujud penghormatan terhadap sejarah lokal, budaya, dan jasa para leluhur menurut keyakinan masyarakat setempat. Meski kisah perjuangan R.M. Proyo masih hidup sebagai tradisi lisan dan belum seluruhnya terverifikasi melalui kajian akademis, masyarakat berharap kegiatan tersebut terus memperkuat persatuan warga, melestarikan kearifan lokal, serta menjadi pengingat pentingnya menjaga warisan budaya bagi generasi mendatang. 

"Tradisi ini bukan sekadar selametan, tetapi juga cara kami menghormati leluhur dan merawat kebersamaan," tutup Mbah Samber.(Syafi'i/yus)