Header Ads Widget

Hosting Unlimited Indonesia

Ticker

6/recent/ticker-posts

Hilangnya Tradisi Bubak Bumi, Berakhir Korban Bendungan Coban Gede



Pasuruan, Pojok Kiri 
 – Tradisi Bubak Bumi kembali menjadi perbincangan setelah muncul korban di Bendungan Coban Gede, Desa Kepulungan, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan. Kepala Desa Wonosari, Damanhuri, menyampaikan bahwa masyarakat Wonosari sejak dahulu memiliki tradisi sakral Bubak Bumi sebagai bentuk rasa syukur atas melimpahnya sumber air yang mengairi lahan pertanian. Menurutnya, tradisi tersebut sudah sekitar satu dekade tidak lagi dilaksanakan, sehingga memunculkan berbagai pandangan di tengah masyarakat.

Damanhuri menjelaskan, ritual Bubak Bumi dahulu dipusatkan di Dam Coban Gede yang berada di aliran Sungai Kepulungan serta Dam Coban Selang di Desa Wonosari. Tradisi itu dilakukan sebagai ungkapan syukur sekaligus doa agar kedua Dam tetap terjaga, memberikan manfaat bagi petani, serta terhindar dari bencana maupun kerusakan.
Ia menambahkan, pada masa lalu para petani mempersembahkan tiga kepala kerbau untuk dam Coban Gede dan satu kepala sapi untuk dam Coban Selang sebagai bagian dari rangkaian adat.

Menurutnya, persembahan tersebut dipahami masyarakat sebagai simbol syukur, bukan praktik tumbal.

Damanhuri mengatakan tradisi Bubak Bumi dahulu menjadi agenda yang rutin dilakukan warga Wonosari. Selain prosesi utama, masyarakat juga menggelar ritual mantu banyu atau penyatuan air dari berbagai sumber irigasi sebagai simbol persatuan dan keberkahan bagi sektor pertanian.

"Warga Wonosari dari dulu selalu tasyakuran Bubak Bumi di Waduk Coban Gede dan Coban Selang, entah setelah 10 tahun ini tradisi ini hilang," ujar Damanhuri kepada awak media, Jumat (26/6/2026), di ruang kerjanya.

Menurutnya, tradisi tersebut semakin memudar setelah banyak sesepuh desa meninggal dunia dan belum ada generasi penerus yang melestarikannya. Selain Bubak Bumi, masyarakat juga mengenal tradisi Nyadran Takir yang dilaksanakan di saluran irigasi sebagai bentuk penghormatan terhadap sumber kehidupan masyarakat tani.

Damanhuri menyebut Waduk Coban Gede yang dibangun pada masa kolonial Belanda sekitar tahun 1930-an memiliki nilai sejarah sekaligus fungsi vital sebagai sumber pengairan sawah di Desa Wonosari.

Damanhuri menegaskan bahwa tradisi mempersembahkan kepala kerbau maupun sesaji lainnya merupakan bagian dari budaya Jawa yang bertujuan sebagai tolak bala dan ungkapan rasa syukur. Ia menilai masyarakat tidak memaknainya sebagai persembahan kepada selain Tuhan, melainkan simbol membuang sifat buruk serta penghormatan terhadap leluhur dan kearifan lokal.

"Jangan anggap sepele, apapun di suatu tempat ada penguasanya, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat, dan selama itu tidak menyimpang dari syariat, nggak apa-apa," katanya.

Meski demikian, Damanhuri tidak menyatakan bahwa hilangnya tradisi Bubak Bumi menjadi penyebab langsung munculnya korban di Bendungan Coban Gede. Pernyataannya lebih menyoroti pentingnya menjaga tradisi sebagai warisan budaya yang selama ini hidup di tengah masyarakat.
Peristiwa adanya korban di Bendungan Coban Gede memang memunculkan berbagai tanggapan dari masyarakat, termasuk mengaitkannya dengan tradisi yang telah lama tidak dilaksanakan. Namun, hingga saat ini tidak terdapat bukti yang menunjukkan hubungan sebab-akibat antara hilangnya ritual adat dengan insiden tersebut.

Di sisi lain, pernyataan Kepala Desa Wonosari membuka ruang diskusi mengenai pentingnya pelestarian budaya lokal sebagai identitas masyarakat sekaligus sarana memperkuat kebersamaan warga.

Terlepas dari beragam keyakinan yang berkembang, upaya meningkatkan keselamatan di kawasan bendungan melalui edukasi, pengawasan, dan kepatuhan terhadap aturan tetap menjadi langkah utama untuk mencegah terulangnya kejadian serupa.(Syafi'i/yus).