Header Ads Widget

Hosting Unlimited Indonesia

Ticker

6/recent/ticker-posts

Desa Kepulungan, Pusat Kebudayaan Megalitikum Tertua di Pasuruan



Pasuruan, Pojok Kiri
Desa Kepulungan kecamatan Gempol Kabupaten Pasuruan sejak lama dikenal sebagai pusat kebudayaan megalitikum terpenting di kabupaten Pasuruan. 

Sebuah kawasan dataran tinggi menjadi lokasi kunci kubur batu dari situs megalitikum yang menyimpan puluhan tinggalan prasejarah berupa patok batu, watu dakon, Sartovagus, papan kubur batu, tembikar tanah liat, manik-manik, mangkok perunggu, hingga lampu minyak dari perunggu. Temuan tersebut mengindikasikan di desa ini jejak peradaban manusia yang sudah berkembang lebih dari 3.500 tahun.
Hal ini membuktikan bahwa desa Kepulungan yang berada di sebelah timur gunung Pawitra (penanggungan) diperkirakan telah dihuni manusia sejak masa Bercocok Tanam hingga Perundagian atau Paleometalik. 

Kepulungan dipilih karena aluvial lebih terbuka, dijadikan tempat adaptasi baru setelah sebelumnya manusia menghuni kawasan pegunungan.  

Salah satunya dari sekian peninggalan megalitikum yang menarik adalah reruntuhan candi Betas. Mungkin kita hanya melihat puing-puing batu yang berserakan, tapi itu hanya jika kamu melihat tampilannya. 

Tapi begitu kita mendekat sesuatu mulai terasa janggal. Batu-batu ini terlalu sempurna, blok-blok andesit dan batu merah di bukit Betas ini memiliki potongan yang sangat presisi, sudut-sudutnya membentuk 90derajat yang hampir sempurna, permukaannya rata, garis-garisnya lurus bahkan ada alur-alur yang terlihat seperti rel, seolah dirancang untuk menyatu dengan komponen lain seperti sistem modular, seperti bagian dari mesin, padahal ini adalah struktur kuno yang diperkirakan umur 2000-3500 tahun. 

Pertanyaannya bagaimana batu ini dibentuk dengan tingkat presisi seperti itu. Karena untuk menghasilkan siku sempurna, permukaan rata, dan pemotongan yang identik dibutuhkan alat. Bukan alat sederhana, namun dengan alat dengan tingkat akurasi tinggi. 

Kalau itu di buat dengan teknologi, pasti ditemukan, tidak ada bukti penggunaan logam canggih dalam jumlah besar. Tidak ada sisa alat yang menunjukkan teknologi dengan pemotongan presisi. 

Disini banyak terisi batuan. Bagaimana mereka bekerja, dan kenapa semua itu runtuh, tersisah batu-batu presisi yang berserakan, siapa mereka sebenarnya. 

Bagaimana mereka bekerja, dan kenapa semuaa itu hilang tanpa jejak yang jelas!!???

Batu-batu ini bukan batu biasa, beberapa batuannya memiliki ciri-ciri yang beda, mulai warna batuannya sampai ukuran batunya. 

Ukurannya tidak seragam, tidak dipotong sebagai balok rapi seperti bangunan era modern, justru sebaliknya bentuknya acak, tidak simetris, dan yang paling mengganggu tidak ada tanda-tanda semen sebegai perekatnya. 

Pertanyaannya sederhana, bagaimana nenek moyang kita melakukannya, jawabannya pasti menghantui pikiran kita. 

Ada yang berpendapat bangunan ini dibangun di era megalitikum, sebuah peradaban jika dilihat dari standar teknologi moderen, saat itu diperkirakan belum mengenal perhitungan kontruksi berat , tidak ada baja modern, tidak ada Kren, tidak ada angkutan, tapi mampu membangun candi di area bukit Betas.

Lalu bagaiman mereka mengangkat dan memindahkan serta menata batu tersebut dalam ketinggian. 

Dengan teknologi apa nenek moyang kita melakukannya, karena dipemikiran kita menganggap teknologinya terbatas, bahkan kita anggap tradisional. 

Belumlagi pemotongan batuannya, sangat presisi, permukaan batu rata, sudut-sudutnya jelas menunjukkan bahwa leluhur kita memiliki kontrol tehnik yang sangat tinggi.

Ribuan tahun yang lalu, tanpa mesin, tanpa teknologi hidrolik tapi mampu menciptakan sesuatu yang sampai hari ini belum bisa dijelaskan sepenuhnya. 

Disinilah kita semakin kita masuk ke dalam sejarah, semakin banyak hal yang justru tidak sesuai dengan asumsi kita tentang kemajuan. 

Ada sesuatu yang jadi pertanyaan kita, yang belum sepenuhnya kita pahami. Sebuah kemampuan besar yang di dapati leluhur kita, sebuah kemampuan yang pernah ada , lalu hilang. 

Pertanyaan mulai muncul dibenak kita, bagaimana leluhur kita pada masa itu sudah mampu membangun dan membentuk batu SE-presisi seperti ini. Apakah kita salah memahami sejarah perkembangan peradaban atau ada sesuatu yang belum kita ketahui. (Syafi'i/Yus)