Header Ads Widget

Hosting Unlimited Indonesia

Ticker

6/recent/ticker-posts

Nderek Kyai", Sikap MWC NU Gempol Jelang Pilkada 2024



Pasuruan Pojok Kiri
Dinamika pemilihan kepala daerah (Pilkada) Kabupaten Pasuruan makin menghangat seiring sejumlah calon yang bermunculan. Wilayah basis Nahdlatul Ulama (NU) kota santri ini bakal memilih Bupati dan Wakil Bupati baru periode 2024-2029 yang akan dilaksanakan pada 27 November tahun ini.

Bupati petahana Irsyad Yusuf kader NU tidak dapat mencalonkan diri kembali karena telah menjabat selama dua periode.

Ditanya,? sikap MWC NU Gempol masih melihat dari sisi Bibit (garis keturunan), bebet (status sosial ekonomi), dan bobot (kepribadian dan pendidikan) atau 3B merupakan kriteria seperti akan memilih pasangan hidup.

"Soal figur itu seperti cari bojolah, dilihat dulu bibit, bebet, nya, kriteria itu harus masuk semua, " Ucap Rais MWC NU Gempol, KH. A. Junaedi Soleh, usai melaksanakan Syafari romadhon di Masjid Baiturrahman
Dusun Gedang desa Jeruk purut Kecamatan Gempol Kabupaten Pasuruan pada hari Senin (1/4/2024). 



Dengan prinsip itu, maka diharapkan masyarakat bisa memilih yang terbaik dari yang terbaik atau bahkan yang terbaik dari yang terburuk.

"Kriteria ini tidak lepas dari, Nderek Kyai. Secara struktural MWC punya atasan, maka secara rujukannya dari cabang, bagaimana cabang, kita hanya ikut pada cabang sebagai anak buahnya, "jelasnya pada jurnalis Pojok Kiri.

Untuk Kriterianya, Kyai Junaidi menunggu kesepakatan ulama yang ada di Pasuruan, "setelah itu di bahas oleh semua Ulamak di sampaikan ke cabang, setelah itu disampaikan ke MWC, "jelasnya.

Salahsatunya figur itu menurut Yai Zunaedi, "yaa harus berpengalaman didalam berorganisasi, pengalaman dalam memonitor, pernah menjadi ini itu, pengalaman itu pernah memimpin didalam negara, "ucapnya.

Apakah harus kader NU, "biasanya itu satu paket, Bibit, bebet, bobot itu, dan itu tidak bisa dipisahkan, dan itu di pimpin Masyayikh. Mangkanya kita harus nderek Kyai, dalam artian, soal milih figur untuk menjadikan pemimpin itu tidak sembarang pemimpin, apalagi Pasuruan yang komplek, terlebih terkenal dengan daerah santri. Tentunya yang tau dengan kesantrian. "Jawabnya.

"Coba kita bayangkan, andaekan kita daerah santri terus kita figurkan orang yang tidak tau dengan santri. Kira-kira dimana. Itu saja, logikanya begitu. Yaa harus stel. Masyarakatnya dan figurnya harus yang tau dengan santri. Saya ngak kebayang juga, yang dihadapi Ulamak Ulamak namun figurnya tidak tau tentang Ulamak."Jelasnya

"NU punya banyak kader, "ucap Kyai. Figur dari NU itu tentu yang bisa membawa maslakha untuk organisasi, untuk ummat, untuk masyarakat Pasuruan, tentunya untuk bangsa ini. Betul betul bisa meminit semua, demi kemajuan rakyat Indonesia, apalagi Pasuruan. 

"Soal beda pilihan itu hal biasa, tiap tahun begitu. Nanti akan mengerucut nanti, setelah mendapatkan penjelasan. Siapa yang klir, yang disepakati mayoritas Ulamak kita, biasanya begitu, untuk satu dua, biasa itu. Biasanya mengerucutnya siapa nantik, siapa sawaadul a'zham, pemilih yang terbanyak di sepakati oleh 
Masyayikh kita. Biasanya begitu untuk Pasuruan. Katakan umpamanya yang terbanyak itu 75, yang beda cuma 25, biasanya yang 25 mengekor ke 75. Patokannya begitu. "Tambahnya.

Supaya tidak ada perpecahan di internal NU , " ia menyarankan untuk berbicara Gempol kita sementara kita menunggu dulu fersi dari cabang, karena kita organisasi sebagai anak dari cabang."tegasnya.

Komitmen kyai terhadap persoalan-persoalan bangsa harus tetap dijaga sebagai bentuk dari sikap ketundukan terhadap Tuhan. Dengan demikian berpolitik adalah menegakkan nilai-nilai moral dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Nilai-nilai inilah yang harus tegak di dalam setiap masyarakat sehingga jauh dari praktik-praktik KKN. (Syafi'i/yus).