Header Ads Widget

Hosting Unlimited Indonesia

Ticker

6/recent/ticker-posts

Filosofi Songsong Emas Prasasti Cunggrang



Pasuruan, Pojok Kiri
Songsong Emas bersandar dikanan kiri situs Cunggrang. Prasasti Cungrang merupakan peninggalan dari Mpu Sendok, yang bergelar Sri Maharaja Rakai Hino Sri Isana Wikramadharmottunggadewa yang memerintah kerajaan Medang dari tahun 929 hingga 947 dan memindahkan kerajaan Medang dari Poh Pitu, Kedu ke Watugaluh Jawa Timur.

Prasasti cungkrang ini berisi tentang Mpu Sindok yang menurunkan perintah kepada Pu Kuala, agar Desa Cunggrang yang termasuk wilayah Bawang di bawah pemerintahan Wahuta Wungkal dijadilan Sima atau tanah perdikan untuk pertapaan di Pawitra dan prasada silunglung sang siddha dewata rakryan Bawang.
Lebih tepatnya berada di dusun Sukci desa Bulusari Kecamatan Gempol Kabupaten Pasuruan.

Atas prakarsa seniman dan budayawan kabupaten Pasuruan Songsong yang sebelumnya berwarna hijau, diganti dengan warna kuning sebagai kehidupan dan Simbol Gelar Kepangkatan pemberi prasasti yang ada di desa Cunggrang saat itu.


Dari periode zaman apa dan abad keberapa songsong mulai dipergunakan oleh masyarakat Jawa, belum
diketahui secara pasti, akan tetapi para seniman dan sejarawan memilih Songsong warna emas/kuning, di prasasti Cunggrang bukan karena tanpa alasan. Merujuk pada leluhur leluhur Wangsa Isyana pemberi prasasti, bisa di lihat di candi-candi peninggalan wangsa Sanjaya dan Syailendra. Secara arkeologis gambar songsong banyak
dipahatkan di atas permukaan batu atau relief candi-candi Hindhu dan Budha kawasan Jawa Tengah bagian selatan.

Tanda-tanda kehadiran songsong atau payung yang sudah berabad lampau di Nusantara ini tampak pada ukiran
relief di Candi Borobudur maupun Candi Prambanan. Pada relief tersebut dilukiskan adegan kehidupan manusia masyarakat di pulau Jawa pada masa
lalu memakai payung.

Banyak relief yang mengambarkan pengunaan payung
di tengah kegiatan manusia dalam keseharian maupun pada waktu melaksanakan upacara keagamaan atau upacara di dalam kedaton menghadap pejabat tinggi maupun raja, ataupun tokoh yang diagungkan.


Mengamati keberadaan payung yang digunakan oleh bermacam-macam orang sesuai dengan tingkat dan golongan seperti yang dilukiskan pada relief candi
menunjukkan adanya kebudayaan tertata, bahwa payung merupakan benda sebagai alat yang sekaligus perwujudan lambang kehormatan, maupun kebesaran dan kekusaan seseorang tersebut.

Memilih Songsong warna emas atau warna kuning bisa jadi merupakan keputusan yang paling tepat, sebagai perwujudan penghormatan kepada leluhur pemberi penghargaan kepada desa Cunggrang/Bulusari sang Raja Mpu Sindok. Songsong Raja atau Sinuhun Songsong berwarna emas/kuning di seluruh bagian-bagian songsong. Songsong tersebut mengandung simbol keagungan
raja dan mempunyai makna bahwa raja adalah pemilik segalanya dan tidak berkekurangan suatu apapun. 

Konsep dasar Songsong hampir sama dengan konsep canti atau Gapura, 
Seperti yang ada di candi Siwa memiliki tiga bagian, yaitu kaki, tubuh, dan atap. Tingkatan candi ini sesuai dengan budaya asli Jawa, yang mana sama dengan Candi Borobudur. Tingkatan candi ini memiliki makna tersendiri, yaitu bagian kaki candi yang disebut sebagai bhurloka melambangkan dunia atau kehidupan bawah, kemudian tubuh candi atau disebut bhurwaloka berarti dunia tengah, dan atap candi yaitu swarloka yang berarti dunia atas atau dunianya para dewa. 

Konsep lain adalah Gunung Pawitra (penanggungan) dijadikan sebagai pusat aktivitas keagamaan tidak lain adalah karena anggapan bahwa Pawitra merupakan puncak Mahameru, titik pusat alam semesta yang dipindah ke Jawa. Dengan bermukim dan beribadah di bangunan-bangunan suci yang tersebar di lereng-lerengnya, maka para resi akan lebih mudah untuk berhubungan dengan dewanya di dunia Swarloka, tempat bersemayamnya para dewa dan Girinatha.
Sama halnya dengan konsep bentuk dasar payung atau songsong yang di pasang adalah segitiga atau bentuk tumpeng. Bagi masyarakat Jawa khususnya, bentuk segitiga mempunyai arti
tersendiri, baik itu di dalam sistem kemasyarakatan maupun sistem religi di dalam kepercayaannya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. 

Dari bentuk segitiga tersebut dapat dibagi menjadi tiga bagian yang menggambarkan
lapisan paling atas adalah raja, lapisan kedua adalah satria sebagai pelaksana
pertahanan negara, dan lapisan paling bawah adalah rakyat.
Motif hias atau ornamen juga terdapat pada tangkai atau doran songsong. Akan tetapi tidak semua doran menggunakan motif hias.
Motif hias pada doran hanya terdapat pada songsong raja, darah dalem atau keluarga dan kerabat raja, setana dalem, selain itu pada doran juga terdapat
tunjung, sedangkan abdi dalem yang bergelar kangjeng, yang bergelar panewu, mantri, dan lurah, tangkai atau doran tidak menggunakan motif hias
atau ornamen.

Namun masyarakat pada umumnya belum mengetahui bentuk bentuk songsong yang digunakan di dalam karaton beserta fungsi dari masing-masing songsong tersebut. Hal ini dikarenakan songsong jarang sekali dikeluarkan pada era sekarang. Selain di dalam lingkungan keraton, songsong
hanya dapat ditemui di rumah-rumah para abdi dalem, bangsawan dan
sentana atau kerabat raja sebagai simbol gelar kepangkatannya. (Syafi'i/Yus).